وقسم بدا له أنه لن يستطيع أن يستمر في الدعوة والتدريس ويؤمن معهده أو جمعيته أو جماعته، ويؤمن نفسه وجاهه وماله إن لم يمدح الطاغوت ويداهنه، فتأوَّل تأؤُّلاً فاسداً فضلَّ ضلالاً مبيناً وأضل خلقاً كثيراً.
Sebagian orang berpandangan bahwa ia tak mungkin lagi dapat melanjutkan dakwah dan mengajar, mengamankan pondoknya atau yayasannya atau jamaahnya, juga mengamankan dirinya, kedudukannya dan hartanya, jika ia tidak mau memuji atau berkompromi dengan thaghut. Maka iapun membuat takwilan-takwilan sesat sehingga ia menjadi sesat dengan kesesatan yang nyata dan menyesatkan banyak orang.
(Maulana Usamah bin Ladin, 17 februari 2003)
Bagi siapa yang condong kepada kedudukan (struktural --jama’ah--, atau jabatan dunia), yang rakus terhadap harta benda, yang tamak terhadap kemashuran, berbangga dengan banyaknya istri dan anak, yang suka dengan kedamaian dan ketentraman, yang suka terhadap segala perhiasan yang fana. Maka ingat!!! Orang tersebut akan sangat sulit melepaskan diri dari keterikatan dengan itu semua, yang ujungnya enggan –menolak-- berperang bahkan takut berperang karena takut mati!!! Takut melepas segala kesenangan yang sangat fana dan hina. Cenderung mempertahankan status quo, meski harus menggadaikan dien dan jihadnya.
Allah ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa beratdan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.”(QS. At-Taubah 38)
Sayyid Qutb menjelaskan dalam Fi Dzilail Qur’an, bahwa ayat ini turun setelah Rasulullah memobilisasi umum para sahabat untuk ikut perang tabuk. …. Dan beliau menjelaskan bahwa merasa berat disini maknanya adalah berat karena condong kepada dunia, berat karena rakus terhadapnya, orientasinya melulu dunia, berat karena takut terhadap (beban) hidup, berat karena harta, berat karena khawatir (hilangnya) kelezatan dunia dan menikmatinya, berat karena (terbiasa) istirahat & santai, … (Fi dzilali Qur’an, Syyid Qutb. 4/30).
Dunia dan pernak-perniknya, kami ibaratkan upas ulo (jw.), dimana yang cenderung dan tamak mengambilnya maka ia akan tersengat racun bisa yang sangat berbahaya dan mematikan –mati sama sekali semangatnya untuk jihad--. Pada akhirnya ia meninggalkan jihad, ia takut perang sama sekali. Jadilah ia hubuddunya dan takut mati, sebagaimana Sabda Rasulullah ; “Hubbud dunya wa karohiyatul maut”.
Dalam Surat Al-Baqarah ayat ke 246, Allah Berfirman :
أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
Artinya : “Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah." Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang." Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?". Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.”
-----------------------
hunafaa-blog



