Minimanual Gerilya Kota
{ by MJM }
Bagian I
DAFTAR ISI
DEFINISI DARI GERILYA KOTA ……………………………………………………
KUALITAS PRIBADI GERILYAWAN PERKOTAAN ………………………………
BAGAIMANA HIDUP GERILYAWAN KOTA ………………………………………
TEKNIS PERSIAPAN DARI GERILYA KOTA ……………………………………
PERSENJATAAN GERILYA KOTA …………………………………………………
DEFINISI DARI GERILYA KOTA
Gerilyawan kota (baca Mujahid) adalah orang yang berjuang melawan ParaPenguasa Thoghut yang didukung militer dengan senjata dan menggunakan metode perang non konvensional (tidak saling berhadap-hadapan). Mereka adalah seorang revolusioner dan bersemangat patriot (real mujahid), seorang pejuang untuk pembebasan diennya dan umatnya, dan ia adalah seorang kawan dari umatnya (bersahabat dengan masyarakat).
Karena biasanya gerilyawan kota bergerak di kota-kota besar yang notabene di sana juga terdapat para penjahat dan para criminal. Maka, seringkali gerilyawan kota ini mudah sekali tertimpa fitnah akibat ulah para penjahat tadi.
Sebagai seorang mujahid dalam berperang mempunyai aturan-aturan yang baku -- rujuk kitab-kitab yang membahas mengenai fikh jihad -. Yang hal ini membedakannya dengan para criminal.
Perbedaan antara seorang gerilyawan kota (secara umum) dengan para criminal, yakni para pelaku kriminal memperoleh manfaat pribadi dari tindakannya dan serangannya indiscriminately (tanpa membedakan antara musuh dengan sipil). Maka banyak sekali korban yang ditimbulkan dari pihak sipil. Berbeda dengan gerilyawan kota (terutama bagi seorang mujahid yang melindungi umatnya dari tangan para setan thoghut) yang hanya menyerang sesuai tujuan politik / ideology, pemerintah, pejabat militer, pangkalan militer, tempat-tempat pemeriksaan (check point), kedubes, pengusaha besar, penjajah, dsb.
Unsur lain yang bergerak pada daerah perkotaan yang tidak kalah berbahaya –selain kriminil- yakni para kontra revolusioner. Mereka biasanya terdiri dari militer baik yang berseragam atau tidak, terkadang pula terdiri dari sipil yang dipersenjatai dan dibayar oleh penguasa. Mereka bertugas untuk menciptakan kebingungan di masyarakat, merampok bank, menjarah, melempar bom ke kerumunan massa, menculik, pembunuhan masal, dan melakukan berbagi kejahatan untuk memfitnah para gerilyawan.
Tugas utama gerilyawan kota yakni mengalihkan perhatian, memecah kosentrasi pemerintah, menghancurkan, membunuh pejabat penting di pemerintahan maupun militer dan menyerang pangkalan militer ataupun kedubes.
Gerilyawan kota juga bertugas menghancurkan system ekonomi, politik dan social guna menggoyang dan mengacaukan roda pemerintahan. Di samping itu untuk membantu gerilyawan yang bergerak di pegunungan dan pedesaan (area-area terpencil) dari kepungan militer. Karena perhatian militer akan terpecah yakni untuk menghadapi gerilyawan di area pegunungan dan area perkotaan. Hal ini sangat membantu dalam penciptan struktur sosisal dan politik yang baru.
Gerilyawan kota dikenal keberaniannya (dalam menjalankan tugas dan dalam spekulasi ke depan) dan penguasaan terhadap medan tempurnya. Seorang gerilyawan kota minimal mempunyai keahlian sebagai penembak jitu dan ahli dalam siasat. Keahlian ini untuk mengimbangi kenyataan bahwa ia tidak kuat dalam senjata, amunisi dan peralatan tempur lainnya.
Dibandingkan musuhnya yakni polisi dan militer yang mempunyai sarana transportasi dan senjata tempur modern, gerilyawan kota tidak memiliki hal tersebut. Hal ini belum ditambah (biasanya) banyaknya anggota yang menjadi buron maupun orang yang baru saja keluar dari penjara. Semua itu akan menjadi beban dan menyulitkan dalam bergerak.
Namun demikian, gerilyawan kota memiliki beberapa keunggulan, yakni mereka susah untuk diidentifikasi dan dikenali. Gerilyawan akan bergerak dan menyerang atas nama rakyat (sehingga akan lebih membaur dan diterima masyarakat). Sedangkan militer bergerak dan menyerang atas nama penguasa. Sehingga apabila mereka sedikit melakukan kesalahan maka penguasa tersebut akan semakin dibenci rakyatnya.
Senjata para gerilyawan lebih sedikit dan terbatas dibanding musuhnya, tetapi jika dipandang dari sudut pandang moral (semangat) tempurnya jauh lebih tinggi. Apalagi bagi seorang mujahid yang mempunyai cita-cita yang tinggi untuk membela DienNya dan umatnya. Keunggulan moral ini yang akan menghantarkan pada kemenangan dan akan selalu memotivasinya agar menyelesaikan tugasnya, yakni menyerang dan bersembunyi (kick and run).
Banyak kendala yang akan ditemui oleh gerilyawan kota, mulai dari masalah terbatasnya amunisi, kurangnya persenjataan, tidak adanya fasilitas seperti tempat untuk melatih anggota hingga masalah amniyah (keamanan). Untuk masalah senjata dan amunisi dapat diperoleh melalui pembelian illegal maupun melakukan perampasan, ambush (penyergapan) dan penyerangan terhadap check point, pasukan militer, konvoi maupun pangkalan-pangkalan militer. Dan inilah salah satu faktor yang menyebabkan baragamnya jenis senjata yang dimiliki para gerilyawan.
Masalah keamanan bagi seorang gerilyawan harus diutamakan. Maka diharapkan seorang gerilyawan kota -apalagi mujahid-, harus memiliki standar keamanan sendiri. Telah kami bahas dalam makalah sendiri “beberapa masalah keamanan bagi seorang mujahid { by MJM } ”
Untuk tempat melatih menembak, keahlian menembak, maupun keahlian tempur lain. Maka dapat dilakukan dengan membuat sebuah camp pelatihan hutan maupun berhubungan dengan para gerilyawan hutan. Namun, jika hal ini tidak memungkinkan maka para gerilyawan dapat menggunakan rumah, maupun halaman rumahnya untuk berlatih keahlian militer ini (selain menembak dengan senjata, demoltion explosive maupun hal-hal yang dapat menimbulkan suara keras dan mencurigakan). Misalnya dia dapat melakukan latihan berkelompok untuk membersihkan gedung (teknik clearing), memasuki ruangan, berjalan di lorong, membuat jebakan, dsb. Intinya para gerilyawan harus melatih diri baik dengan cara apapun.
Segala kesulitan ini harus diatasi dan diselesaikan oleh para gerilyawan, sehingga akan memaksa para gerilyawan kota menjadi imajinatif, kreatif dan akan menjadikannya lebih berkualitas mulai dari individu hingga sebuah kelompok.
KUALITAS PRIBADI GERILYAWAN PERKOTAAN
Beberapa kualitas yang harus dimilkii oleh gerilyawan kota yakni memiliki inisiatif, mobilitas dan fleksibilitas. Mobilitas, seorang gerilyawan dituntut untuk selalu bergerak, tidak harus dalam artian selalu berpindah-pindah. Tetapi, dia selalu melakukan pekerjaan atau kegiatan yang berkaitan dengan upaya menyerang musuhnya. Hal ini bisa berupa membuat kerusuhan (untuk mengacaukan pemerintahan), menggalang kemarahan massa untuk meruntuhkan penguasa, maupun hal-hal lain yang dapat membuat ketidakstabilan kondisi social dan ekonomi.
Hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, yakni masalah tarbiah, mengajarkan kaum muslimin mengenai Diennya yang benar, mengajari mengenai keahlian militer (baik berupa tulisan maupun praktik), maupun menelanjangi kejahatan para thoghut dan ansornya.
Fleksibilitas dalam menjalankan misi dan perintah. Gerilyawan kota harus dapat menyesuaikan diri (fleksibel) dengan lingkungannya. Sehingga tidak membuat kecurigaan orang lain. Disamping itu dia harus fleksibel dalam menjalankan berbagai tugas-tugasnya.
Inisiatif, merupakan kualitas yang sangat-sangat penting bagi seorang gerilyawan . Jadi seorang gerilyawan kota harus berani mengambil spekulasi (dengan terlebih dahulu memperkirakan segala sesuatu). Gerilyawan kota tidak boleh bingung atau hanya menunggu petunjuk atau perintah. Dia harus seorang pelopor bukan pengekor.
Apalagi bagi seorang mujahid, karena salah satu taktik yang berhasil yakni menggunakan taktik menyerang musuh secara sel-sel kecil ataupun individu –lihat Dakwah Muqowama, Syaikh Abu Mus’ab As-Suri., atau terbitan majalah Inspire, AQAP--. Yang memungkinkan mujahid bergerak tanpa adanya control komando secara teratur tetapi merupakan hasil inisiatif diri untuk menyerang musuh.
Tugas gerilyawan kota yakni untuk bertindak, lalu mencari solusi atas masalah yang dia hadapi (ketika bertindak), kemudian mundur dan bersembunyi. Dan ingat prinsip ini
“Lebih Baik Berbuat Kesalahan Ketika Bertindak Daripada Tidak Melakukan Apa-Apa Karena Takut Berbuat Kesalahan.”
Tanpa Inisiatif, Tidak Ada Perang Gerilya
Kualitas atau keahlian penting lainya meliputi:
- Seorang yang mampu berjalan dan lari dalam jangka waktu yang lama dan jauh, dan mampu untuk berdiri melawan kelelahan, kelaparan, hujan atau panas.
- Mampu melakukan kamuflase dan cakap dalam mencari tempat persembunyian.
- Peka, waspada, dan tahu bagaimana menjadi waspada –sehingga tidak membuat berlebih-lebihan dalam perilakunya-.
- Tahu seni dissembling (bersembunyi).
- Tidak takut bahaya.
Ketika kita telah melangkahkan kaki dalam jalan jihad ini, maka terlebih dahulu perlu kita ketahui bahwa jalan ini pasti akan bertemu dengan berbagai rintangan yakni tertangkap, disiksa, bahkan dibunuh. Jalan ini adalah jalan satu arah, yang tidak memiliki jalan kembali atau mundur. Jadi jika suatu saat kita tertangkap, buron, maupun disiksa, maka janganlah kita menggerutu bahkan menyalahkan orang lain. Karena itu merupakan ketetapan Alloh. Jika kita belum sanggup maka lebih baik, MUNDURLAH…!!!
Dan jika kita ingin aman dan tidak tertimpa berbagai masalah dan bahaya, maka janganlah kita menapakkan kaki di jalan para perwira ini (jihad)…!!! Karena siapapun yang telah menapakkan kakinya di jalan para singa maka pasti dia akan diuji, baik menjadi buron, tertangkap, disiksa maupun dikejar-kejar oleh para thoghut.
Jika kita belum siap maka lebih baik MUNDURLAH…!!!
- Dapat menjadikan malam seperti siangnya. Tidak membeda-bedakan waktu beraktifitas.
- Memiliki kesabaran yang tinggi, karena gerilyawan ketika melakukan penyerangan pasti memerlukan waktu yang panjang. Mulai dari memilih target, mengamati perilaku target, mengintai di tempat persembunyian, mempertimbangkan berbagai hal, memilih waktu dan tempat yang tepat dan menunggu target lewat di tempat eksekusi, baru pengeksekusian. Lebih baik lama dalam melakukan penyusunan rencana penyerangan dengan hasil maksimal, daripada terburu-buru menyerang sehingga menghasilkan kekalahan.
Sebagai contohnya yakni sniper yang menunggu berjam-jam di tempat persembunyian, menunggu hingga target lewat di tempatnya. Atau kita dapat mempelajari melalui kasus WTC –yang penuh barokah-.
- Dapat bertindak tenang dan dingin dalam kondisi dan situasi terburuk. Hal ini diperoleh melalui berbagai pengalamannya. Dan dapat dilatih dengan melakukan berbagai pembiasaan. Lebih lagi bagi seorang mujahid karena dia selalu yakin bahwa Alloh selalu bersamanya dan tidak akan mungkin meninggalkan hamba Nya yang berusaha mendekat kepada Nya.
- Tidak pernah meninggalkan jejak dalam bertindak. Selalu bersih dalam bekerja
- Tidak berkecil hati. Ini sangat penting karena jika dia berkecil hati maka itu akan menyebabkan segala sesuatu yang telah direncanakan akan hancur dan luluh lantak.
Sebenarnya segala kesulitan yang ada itu hampir semuanya dapat diatasi. Yang dibutuhkan adalah kesabaran dan tetap istiqomah. Dan jangan sampai kesulitan itu melemahkan seorang mujahid atau bahkan menyebabkan kawan-kawannya menyerah melawan (dengan mengendurkan semangat melawan). Maka jika dia telah merasa tidak akan mampu menghadapi kesulitan yang ada di masa depan, tidak memiliki kesabaran. Maka lebih baik dia mundur dan melepaskan perannya sebelum dia menghancurkan rencana yang ada. Karena jelas dia tidak memiliki kualitas dasar yang harus dimiliki seorang gerilyawan kota.
BAGAIMANA HIDUP GERILYAWAN KOTA
Seorang gerilyawan kota harus tau bagaimana gaya hidup orang-orang disekitarnya. Dia harus berhati-hati untuk tidak tampil aneh, mencolok dan berbeda dari orang-orang disekitarnya. Seorang gerilyawan harus bisa memilih gaya berpakaian yang cocok dengan kondisi sekitarnya.
Gerilyawan kota harus memiliki kemampuan untuk observasi. Gerilyawan kota harus mencari dan mengumpulkan data atau informasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan kondisi kota, juga tentang gerakan musuh, mempelajari dan mengenal seluk beluk daerah dia tinggal, gang, ataupun jalan pintas.
Seorang gerilyawan kota harus bisa membiayai keperluan hidupnya sendiri, bisa melalui bekerja. Jika dia dikenal dan buron maka terkadang dia harus hidup tersembunyi, mengganti penampilan fisik (muka, berat badan, bentuk tubuh, dsb) atau pergi ke daerah terpencil.
Tetapi, perlu diingat bahwa karakteristik fundamental dari gerilyawan kota yakni dia adalah seorang yang berjuang dengan senjata. Maka sangat sedikit kemungkinan dia akan mampu mengikuti profesi normalnya (pekerjaannya) dalam jangka waktu yang lama, tanpa diidentifikasi polisi. Dan sangat tidak mungkin bagi gerilyawan kota untuk eksis dan bertahan hidup tanpa berjuang (dengan senjata) untuk mengambil alih kota atau daerah itu.
Ada 2 tujuan penting dari gerilya kota, yakni:
- Pembunuhan terhadap para pemimpin dan asisten dari angkatan bersenjata dan polisi, maupun orang-orang penting yang berpengaruh. Pembunuhan orang-orang penting itu merupakan tujuan dari gerilya kota. Sehingga setiap kelompok gerilyawan harus mampu menyerang orang-orang penting itu minimal 1 bulan 1 kali –tergantung situasi dan kondisi-. Satu prinsip penting yakni : Tidak ada pembunuhan terhadap orang penting maupun petinggi militer sama saja tidak ada gerilya.
- Pengambilalihan sumber daya pemerintah dan kekayaan milik para thoghut dan ansornya – ghonimah dan fai’i-, hal ini digunakan untuk mendanai operasi dan untuk kelangsungan hidup para gerilyawan.
Jelas, bahwa perjuangan bersenjata gerilya kota juga memiliki tujuan lain. Tetapisemua tujuan lainnya tidak akan terwujud kecuali dua tujuan di atas terlaksana. Dua tujuan ini diperlukan untuk setiap gerilya. Harus diingat bahwa gerilyawan hanya dapat mempertahankan keberadaannya, jika ia mampu membunuh polisi dan militer, atau orang-orang yang bekerja untuk menghancurkan para gerilyawan. Dan para gerilyawan harus berusaha untuk menguasai aset-aset kekayaan para imperealis yang ada di kota itu.
Buah dari pengambilalihan dan penyerangan ini dapat berupa pengalaman, yang dengannya para gerilyawan akan belajar dan menyempurnakan taktik gerilyanya. Hasil lainnya yakni keuntungan financial dari ghonimah dan fa’I, yang dapat digunakan untuk pembelian, produksi maupun pengangkutan senjata dan amunisi untuk gerilyawan daerah pedesaan dan hutan.
Dan buah lainnya yakni rasa lega dan puas karena telah membalas kekejian para diktaktor terhadap kawan-kawan yang tertangkap dan teraniaya bahkan yang terbunuh. “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. dan Allah menerima Taubat orang yang dikehendakiNya. Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9 :14-15).
Gerilyawan harus dapat menghancurkan perekonomian guna menggoyahkan para bisnismen besar yang dzolim, para imperialis, dan pemerintah yang dictator dan korup. Karena merekalah adalah penghisap dan penindas rakyat.
Hal ini dapat dilakukan dengan eksekusi, ledakan, serangan bersenjata pada bank dan penjara, dll. Dan sangat ditekankan dalam melakukan operasi harus selektif dan meminimalkan korban dari sipil. Karena musuh kita adalah pemerintah, militer dan rezim yang korup bukan sipil.
TEKNIS PERSIAPAN DARI GERILYA KOTA
Gerilyawan kota dituntut memiliki fisik yang kuat dan memilki berbagai ketrampilan, terutama ketrampilan manual.
Gerilyawan kota harus secara kontinyu melatih keahlian fisiknya dan berbagai seni pertempuran. Maka, para gerilyawan harus belajar dan mempraktekkan (dengan simulasi) berbagi bentuk pertempuran bersenjata, serangan, pertahanan dan keahlian bela diri. Bentuk lain dari persiapan fisik sederhana tapi berguna yakni hiking, berkemah, praktek survival di hutan, mendaki gunung, mendayung, berenang, menyelam, dan berburu burung.
Hal yang tidak kalah penting untuk dipersiapkan yakni keahlian mengendarai kendaraan; baik itu mobil, motor, truk, bus, perahu, kapal dsb (minimal mengtahui caranya). Memahami mekanika, radio, tetephone, listrik dan memiliki pengetahuan elektronika (computer, printer, dan berbagai perangkatnya). Memiliki pengetahuan tentang informasi topografi; untuk dapat mengetahui posisi dengan instrument dan peralatan yang tersedia, untuk menghitung jarak, membuat peta dan rencana, membuat skala, membuat “timing”, dapat mengoperasikan kompas, dan dapat bekerja (menghitung) dengan ukuran sudut. Memiliki pengetahuan tentang kimia. Memiliki pengetahuan untuk memalsukan dokumen-dokumen missal KTP, SIM, KK, dsb. Dan juga memiliki pengetahuan kedokteran, missal P3, pertolongan darurat, farmakologi, obat-obatan baik alami maupun kimia, samapi pembedahan sederhana, dsb.
Begitu pula seorang gerilyawan harus menguasai pengoperasian berbagai jenis senjata, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Dan memiliki pengetahuan mengenai amunisi dan bahan peledak semisal granat. Dalam perang kota granat memiliki peran dan fungsi yang sangat besar. Kita dapat melihat contoh dari kisah mujahid Isam Al Qomari –semoga Alloh menerimanya sebagai syuhada- di Mesir. Beliau dapat memporak – porandakan pasukan khusus yang mengepung beliau dengan beberapa granat –tentu dengan teknik dan strategi yang jitu-. Penggunaan bahan peledak seperti dinamit, granat, bom asap, bom bakar, bom pipa (rakitan), Molotov, dan jenis lainnya juga sangat diperlukan latihan sebelumnya.
Begitu juga mengetahui bagaimana memperbaiki senjata dan berimprovisasi ketika menembak, menyiapkan Molotov, granat, ranjau, merusak jebakan, bagaimana meledakkan jembatan, menghancurkan kendaraan lapis baja, dsb. Semua ini adalah kebutuhan dan persiapan teknis dari gerilya kota, yang harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.
Tingkat tertinggi persiapan gerilya kota yakni kamp pelatihan. Dimana pesertanya sudah terpilih dan tersaring saja. Hal ini untuk menjaga keamanan.
PERSENJATAAN GERILYAWAN KOTA
Jenis senjata yang dipakai oleh gerilyawan kota yakni senjata ringan, karena mudah didapat, biasanya adalah rampasan dari musuh, penanganannya mudah dan mudah dalam membawannya. Dibandingkan senjata rifle dan laras panjang lainnya yang sulit untuk dibawa dan bermanuver di tempat-tempat yang sempit. Namun sekarang jenis rifle pun telah dimodifikasi dengan memendekkan laras atau modivikasi popor dan lainnya. Sehingga dapat pula di pakai dalam perang kota, seperti baby M16.
Secara umum, senjata yang dipakai berlaras pendek, kebanyakan senjata otomatis. Namun, senjata otomatis biasanya sulit dikendalikan dalam melepaskan peluru (karena sekali tekan picu, peluru akan berhamburan sampai picu dilepas kembali), sehingga menyia-nyiakan amunisi yang sangat terbatas. Bahkan jika seseorang kurang terlatih dalam menggunakannya, peluru akan berpencar ke segala penjuru.
Karena dalam perang kota dibutuhkan ke akuratan dalam menembak, maka digunakanlah jenis senapan mesin ringan. Disamping itu jenis ini mudah digunakan, efisien juga mudah untuk manuver di tempat-tempat sempit. Senapanan mesin ideal yang bisa dipakai yakni INA caliber .45.
Namun dapat kita ketahui bahwa senjata favorit dan paling mudah didapat yakni jenis AK. Senjata ini dapat pula dipakai dalam medan gerilya kota.
Setiap kelompok gerilya harus minimal memiliki 1 senapan mesin, dan penembaknya yang berkompeten. Disamping itu kalau bisa setiap gerilyawan mempunyai 1 senjata api baik jenis revolver .38 maupun jenis FN. Dan apabila memungkinkan memberikan senjata bagi para simpatisan.
Dan diharapkan setiap para gerilyawan memiliki pengetahuan sniper dan minimal setiap kelompok memiliki 1 orang sniper, lengkap dengan senjatanya. Karena dalam perang kota teknik yang paling baik digunakan yakni menembak musuh (petinggi militer atau orang-orang penting lainnya) dari jarak jauh.
Untuk masalah amunisi tergantung pada jenis senjata yang dimiliki.
Granat tangan dan bom asap, (baik konvensional maupun buatan sendiri), memilki peran yang vital dalam perang kota. Baik untuk penyerangan, bertahan, maupun ambush.
Senapan juga memiliki peran penting bagi gerilyawan. Karena terkadang gerilyawan harus membunuh musuh melalui jarak dekat tanpa diketahui sebelumnya bahwa dia membawa senjata.
Bazoka, mortar, Dragon maupun RPG juga dapat digunakan untuk menghancurkan kumpulan musuh, gedung pemerintahan, patroli, dsb.
Gerilyawan kota boleh menyerang dengan senjata berat, jika memungkinkan senjata itu dapat dipindahkan dengan cepat. Karena waktu sanagt penting. Jika pasca penyerangan para gerilyawan terlalu lama dalam memindahkan persenjataan tsb, maka boleh jadi dia akan disergap oleh pasukan bantuan. Karena pasukan khusus militer dilatih untuk mempersiapkan serangan balik dalam waktu yang relative singkat yakni minimal 10 menit. (Sehingga kita sering lihat dalam video mujahidin ketika mereka menyerang menggunakan peluncur mortar, pasca penyerangan mereka dengan terburu-buru membereskan peralatan tersebut. Hal ini agar para mujahidin itu tidak tersergap oleh pasukan khusus).
Senjata yang digunakan oleh para gerilyawan yakni senjata konvensional hasil dari rampasan. Namun tidak salah pula jika para gerilyawan mampu mengembangkan teknik tempurnya dengan membentuk tempat produksi senjata sendiri. Dimana di tempat atau divisi ini bertugas untuk merakit, merawat, membuat suku cadang dan memperbaiki senjata.
Disamping itu mungkin diperlukan sebuah divisi untuk menciptakan peralatan dan persenjataan tempur sederhana (home made) missal Molotov, bom IED, bahan peledak mortar, granat dari pipa besi, bom asap, maupun jenis-jenis dari bahan peledak konvensional (seperti dinamit, potassium klorat, ANFO, bahan peledak plastic, dsb.
Metode untuk memperoleh bahan-bahan kimia tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pembelian maupun pengambilan secara paksa –jika memang dibutuhkan-.
Gerilyawan harus berhati-hati dalam menyimpan bahan-bahan itu. Karena penyimpanan yang terlalu lama terhadap bahan-bahan tertentu bisa menimbulkan kecelakanaan (ledakan). Maka para gerilyawan harus selalu mencoba menggunakannya segera kepada sasaran yang tepat.
Gerilyawan harus dapat menyembunyikan berbagai senjatanya dengan baik sehingga tidak menimbulkan kecurigaan orang lain.
Dengan semakin beragamnya senjata yang dimiliki oleh gerilyawan kota maka akan dapat melakukan berbagai inovasi yang berbeda dalam penyerangan den teknik pertempuran. Sehingga hal ini akan menurunkan mental tempur musuh karena kebingungan.
Wallohu a’lam
sumber: Forum Islam al-Busyro




