Di tengah-tengah pertempuran yang semakin memanas di Sinai, antara Mujahidin dengan tentara Fir’aun Mesir, dimana kantor-kantor polisi di hujani roket dan aksi-aksi pengeboman yang hampir terjadi setiap hari ini. Pemerintah junta militer dan hukum Mesir semakin kehilangan kedaulatannya di Sinai, seiring dengan semakin bertumbuh kembangnya pengadilan-pengadilan Syari’ah yang menjunjung tinggi al Qur’an dan as Sunnah disana.
Tercatat, dalam beberapa pekan ini, militer Mesir menangkap 2 orang hakim Syari’ah Salafi Jihadi dengan tuduhan telah merusak kedaulatan hukum peradilan Mesir dan mendukung gerakan-gerakan para Jihadis, dilansir dari FP. Pemerintah Mesir mengakui, mereka begitu kecolongan mendapati temuan ini. Dikatakan bahwa pengadilan Syari’ah telah mengakar begitu kuat di Semenanjung Sinai.
Di Sinai Utara, salah satu hakim syari’ah yang paling kuat reputasinya bernama Syaikh Abu Faisal, yang oleh rezim Husni Mubarak pernah dimasukkan dalam bui penjara pada tahun 2004 atas tuduhan terlibat dalam aksi pengeboman di resort wisata Sharm al Sheikh.
Di era itu, pengadilan Syari’ah bergerak secara tersembunyi dari rumah-ke rumah untuk menghindari deteksi aparat keamanan yang menganggap Syari’ah Islam sebagai ancaman terhadap stabilitas hukum negara dan status quo perpolitikan Mesir. Namun kini, Pengadilan Syari’ah di Sinai mulai berani menunjukkan jati dirinya di hadapan publik. Tercatat, setidaknya terdapat 14 pengadilan Islam yang oleh pemerintah disebut sebagai pengadilan informal, yang telah berdiri sejak revolusi 2011.
Memang, semenjak revolusi Mesir meletus yang lalu dilanjutkan oleh lengsernya Muhammad Mursi dari tampuk kepresidenan, pemerintah Mesir semakin kewalahan mengurus wilayah Sinai. Gelombang demi gelombang serangan dari Mujahidin Sinai terjadi, aksi-aksi penembakan, penyergapan telah memaksa aparat kepolisian dan militer menarik mundur personelnya, juga mengosongkan gedung-gedung instansi pemerintahan.
Hal itu berakibat pada terciptanya kekosongan kekuasaan rezim junta militer Fir’aun Mesir di Sinai. Dan pada akhirnya penduduk Sinai mulai mempercayakan pengadilan-pengadilan Syari’ah untuk mengatur wilayah itu.
Kejadian ini mirip dengan yang terjadi di Somalia, Harakat Shabab al Mujahidin Somalia yang berafiliasi pada Tandzim Al Qaeda memanfaatkan kegagalan negara dalam mendirikan hukum sekuler untuk membangun kepercayaan masyarakat pada hukum Syari’ah. Walhasil, sebagian besar wilayah Somalia kini telah dikontrol oleh Mujahidin Islam seiring dengan semakin banyaknya dukungan pada al Shabab, dan semakin jatuhnya reputasi pemerintah.
Akankah sebentar lagi kita akan menyaksikan berdirinya Imarah Islam Mesir? Mari kita do’akan segenap kaum muslimin dan mujahidin di Sinai, untuk saling bersinergi menghadapai serbuan militer Fir’aun Mesir yang didukung oleh Zionis Israel! [arkan/ fp-mideast]
Shoutussalam



