THANDWE, MYANMAR – Amnesti Internasional meminta pemerintah Myanmar segera menyelesaikan konflik antar agama di negaranya. Namun,pasukan keamanan negara tersebut beralasan tidak mampu untuk menjegah warga Buddha menyerang warga Muslim.
Awalnya, massa Buddha berjumlah sekitar 150 masuk ke wilayah penduduk Muslim sebelum fajar, warga Muslim sempat mendorong mereka kembali , namun karena warga Buddha membawa senjata tajam dan peralatan untuk membakar rumah akhirnya banyak rumah terbakar.
Saksi mata mengatakan bahwa pemerintah memiliki banyak kesempatan untuk mencegah serangkaian serangan pada hari Selasa, namun mereka mengulur waktu hingga lebih dari 150 rumah habis terbakar dan lebih dari 500 warga Muslim kehilangan tempat tinggal.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa pasukan keamanan tidak mampu menahan Umat Buddha? Aparat pemerintah bukannya tidak bisa, namun mereka cenderung membiarkan Umat Islam dibantai dan membakar rumah-rumah penduduk Muslim.
Lima Muslim tewas dalam serangan di kota Thandwe pada Selasa (01/10/2013) dan seorang warga berusia 89 tahun terbakar karena terlalu tua untuk berlari.
Setelah peristiwa ini, barulah Presiden Thein Sein mendarat untuk jadwal kunjungan. Dia berjanji akan menyelidiki latar belakang peristiwa ini. Sungguh amat terlambat setelah pembantaian kaum muslimin selama 18 bulan terakhir.
Lebih anehnya lagi, 44 warga Buddha yang bersalah ternyata dibebaskan pada sabtu malam. Ini merupakan bentuk ketidak adilan dari pemerintah Myanmar kepada Umat Islam. Tiga tersangka lainnya mengatakan jika mereka ditahan maka akan melakukan serangan lebih keras lagi.
Aparat keamanan justru menyuruh masyarakat Muslim untuk pulang kerumah masing-masing dan melucuti senjata yang dibawa warga muslim. Padahal senjata sederhana itu untuk melindungi diri mereka dari serangan warga Buddha.
Polisi tidak melakukan tindakan apapun terhadap kekerasan yang dilakukan Buddhis, mereka hanya diam saja melihat rumah-rumah terbakar. Bahkan sekarang ketakutan yang dialami warga Muslim meningkat, mereka resah akan diserang lagi oleh agama mayoritas di Myanmar itu.
Sungguh menyedihkan ketika Associated Press di New York mewawancara Menteri Luar Negeri Wunna Maung Lwin yang membantah tuduhan bahwa penegakan hukum atau tentara pemerintah gagal mengambil tindakan. Ini berbeda dari kenyataan dilapangan bahwa warga Buddha dibiarkan saja membakar rumah-rumah penduduk.
Setelah kawasan Tandwe, serangan merambat ke kota delta selatan, polisi dan warga mengatakan massa Buddhis menghancurkan rumah-rumah Muslim tanpa ada tindakan pencegahan dari aparat.
Source : Al Mustaqbal Channel
Posting Komentar