Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Amalan Syirik Dan Bid'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan Syirik Dan Bid'ah. Tampilkan semua postingan

Kuburan Menjadi Masjid

Written By Anonim on Rabu, 23 Oktober 2013 | 07.13


Pertanyaan :
Saya amati di tempat kami sebagian kuburan disemen dengan ukuran panjang sekitar 1 m dan lebar 1/2 meter. Kemudian pada bagian atasnya ditulis nama mayit, tanggal wafat, dan terkadang ditulis juga kalimat seperti: “Ya Allah rahmatilah Fulan bin Fulan…”, demikian. Apa hukum perbuatan seperti ini?


Jawab:
Kuburan tidak boleh dibangun, baik dengan semen (cor) ataupun yang lainnya, demikian juga tidak boleh menulisinya. Karena ada hadist yang shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang melarang membangun kuburan dan menulisinya. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari hadits Jabir radhiallahu’anhu, beliau berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang kuburan dikapur, diduduki, dan dibangun”
At Tirmidzi dan ulama hadits yang lain juga meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih, namun dengan lafadz tambahan:

وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ

“dan (juga dilarang) ditulisi”


Karena hal itu termasuk bentuk sikap ghuluw (berlebih-lebihan), sehingga wajib mencegahnya.


Selain itu, menulis kuburan juga beresiko menimbulkan dampak atau konsekuensi berupa sikap ghuluw berlebihan dan sikap-sikap lain yang dilarang syar’iat. Yang dibolehkan adalah mengembalikan tanah galian lubang kubur ke tempatnya lalu ditinggikan sekitar satu jengkal sehingga orang-orang tahu bahwa di situ ada kuburan. Inilah yang sesuai sunnah dalam masalah kuburan yang dipraktekkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta para sahabatnya radhiallahu’anhum.


Tidak boleh pula menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), tidak boleh pula menaunginya, ataupun membuat kubah di atasnya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam :

لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)” (Muttafaqun ‘alaihi)


Juga berdasarkan hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya dari sahabat Jundub bin Abdillah Al Bajali radhiallahu’anhu, beliau berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika lima hari sebelum hari beliau meninggal, beliau bersabda :

إِنَّ اللهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil (kekasih)-Nya sebagaimana Ia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seseorang dari umatku sebagai kekasihku, maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi dan orang shalih diantara mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), karena sungguh aku melarang kalian melakukan hal itu”


Hadits-hadits yang semakna dengan ini sangatlah banyak.


Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan taufiq kepada muslimin agar senantiasa berpegang teguh dengan Sunnah Nabi mereka Shallallahu’alaihi Wasallam dan tegar di atasnya, serta senantiasa diperingatkan dari segala ajaran yang menyelisihinya. Sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.


Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
[Majmu Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’'ah, juz 4, hal.337-338]

Allahu Akbar! Dihancurkan Lagi Bangunan Sarana Kemusyrikan di Sragen

Allahu Akbar! Dihancurkan Lagi Bangunan Sarana Kemusyrikan di Sragen

Kapan akan dihancurkan pula, bangunan kemusyrikan tempat muja dan cari pesugihan dengan lokasi zina di Gunung Kemukus yang juga di wilayah Sragen?
  • Warga merasa dikhianati oleh Pemkab Sragen, warga sudah kecewa 4 kali ini
  • Surat Pernyataan Gus Anto pada hari Jum’at [04/10/2013] adalah dalam waktu 14 hari sejak ditandatangani, Gus Anto akan menghilangkan bangunan yang mengarah pada kesyirikan seperti tempat Kungkum, Pasujudan dan Bangunan Mistis lainnya di Padepokan Santri Luwung Bumi Arum.
  • Dalam mediasi yang alot ini akhirnya perwakilan warga sejumlah sepuluh orang diperbolehkan untuk melanjutkan menghancurkan bangunan-bangunan kesyirikan di sekitar tempat  kungkum*.
Luwung Bumi Arum 1SRAGEN- Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) melaporkan, Jum’at lalu [18/10/2013] warga kembali menghancurkan bangunan simbol kesyirikan di Padepokan Santri Luwung Bumi Arum Sragen. Pada hari Jumat 2 pekan sebelumnya [04/10/2013]  pemilik padepokan Gus Anto yang menghancurkan sendiri dan dilanjutkan oleh warga setempat. Kali ini warga tetap pada pendiriannya menuntut semua bangunan di Padepokan Santri Luwung Bumi Arum rata dengan tanah.
Menurut Taru salah satu warga, Pemkab Sragen dinilai lambat dan tidak tegas. Warga sudah mempercayakan Pemkab Sragen untuk menegakkan Perda dimana bangunan yang tidak memiliki ijin agar diberi Surat Peringatan [SP]. Sebenarnya Pemkab Sragen sudah melayangkan SP I kepada Gus Anto pada hari Senin, 7 Oktober 2013 dengan masa tenggang 7 hari. Prosedurnya jika bangunan tidak dibongkar akan muncul SP II dengan tenggang waktu 7 hari. Dan seandainya SP II tidak dihiraukan akan diterbitkan SP II dengan tenggang waktu 14 hari kemudian Pemkab Sragen yang akan mengeksekusi semua bangunan yang tidak ada IMB nya.
 “Yang dipermasalahkan warga adalah setelah terbit SP I [7/10/2013]  , mengapa tidak diterbitkan SP II yang semestinya menyusul tanggal 15 Oktober 2013? Warga merasa dikhianati oleh Pemkab Sragen, warga sudah kecewa 4 kali ini,” tambah Taru.
Luwung Bumi Arum 2GUS ANTO MENGKHIANATI LUIS DAN JAT
Berdasarkan Surat Pernyataan Gus Anto pada hari Jum’at [04/10/2013]  di Mapolsek Sidoharjo Sragen di hadapan AKP Kethut Putra Kapolsek dan Tri selaku Camat Sidoharjo yang disaksikan oleh Ketua Luis Edi Lukito dan Dzikron selaku Qoid Hisbah JAT Wilayah Jawa Tengah serta 2 pengikut Gus Anto salah satu pernyataannya adalah dalam waktu 14 hari sejak ditandatangani, Gus Anto akan menghilangkan bangunan yang mengarah pada kesyirikan seperti tempat Kungkum, Pasujudan dan Bangunan Mistis lainnya.
Kemudian berdasarkan pembicaraan Via telpon antara Sekjen LUIS Yusuf Suparno dengan Gus Anto pada hari Ahad, [06/10/2013], Gus Anto juga mengijinkan bahwa bangunanya yang dianggap tempat Kesyirikan dihancurkan.  Namun hingga hari Jumat [18/10/2013] Gus Anto tidak memperlihatkan tanda –tanda akan menghancurkan banguan kesyirikan.
 Luwung Bumi Arum 3MEDIA WARGA, LUIS DENGAN KAPOLRES, DANDIM DAN MUI GAGAL.
Jum’at pag i[18/10/2013] Taru selaku perwakilan warga, Endro Sudarsono selaku Humas LUIS, AKBP Dhani Kapolres, Kolonel Wahyu selaku Dandim dan KH Bilal selaku anggota MUI Sragen melakukan mediasi di depan Padepokan. Namun, merasa dikhianati dan dikecewakan oleh Gus Anto dan Pemkab Sragen, warga menghendaki bangunan tetap dieksekusi dan diratakan dengan tanah. Akhirnya tidak ada kesepakatan dan Kapolres minta warga menunggu Fatwa MUI.
Setelah melakukan sholat Jum’at, Warga berduyun-duyun menuju padepokan. Namun dihalang-halangi oleh ratusan anggota Polres Sragen dan Ratusan Brimob dari Solo. Polisi memblokade jalan menuju Gapura tempat Kungkum. Warga sudah minta ijin baik-baik, namun Kapolres Sragen tetap bertahan agar menunggu Fatwa dari MUI Sragen.

Warga semakin mendekat dan entah siapa yang mengawali terjadilah saling dorong, saling, lempar bahkan polisi menembakkan Gas Air mata di kerumunan warga.Luwung Bumi Arum 4

.
MEDIASI LAGI
Luwung Bumi Arum 5
Luwung Bumi Arum 6foto dukungan warga
Setelah sempat mereda, salah satu pengurus JAT Ust. Ahmad Sigit melakukan mediasi dengan Kapolres Sragen AKBP Dani. Dalam mediasi yang alot ini akhirnya perwakilan warga sejumlah sepuluh orang diperbolehkan untuk melanjutkan menghancurkan bangunan-bangunan kesyirikan di sekitar tempat  kungkum. Hingga menjelang maghrib akhirnya warga berangsur-angsur meninggalkan lokasi padepokan.(rojul/Humas LUIS, Endro Sudarsono)(VOA-ISLAM) Senin, 21 Oct 2013
* KUNG·KUM v berendam dalam air selama berjam-jam pada waktu malam dengan maksud bertirakat./KBBI

Untuk mengetahui lebih jauh tentang kemusyrikan, silakan baca artikel Apa Syirik Itu? di nahimunkar.com http://www.nahimunkar.com/apa-syirik-itu/

Adapun tentang kemusyrikan dan perzinaan di Gunung Kemukus wilayah Sragen yang justru seqakan dikembang suburkan, dapat dibaca di nahimunkar.com Gejala Buruk Pengkeramatan Kuburan http://www.nahimunkar.com/gejala-buruk-pengkeramatan-kuburan/

(nahimunkar.com)

Sesatnya Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum

Written By Anonim on Kamis, 19 September 2013 | 12.48


Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, berarti seluruh hukum dan perundang-undangan di Indonesia tidak boleh menyimpang dari Pancasila, semua hukum dan perundang-undangan harus digali bersumber pada Pancasila.

Dengan adanya fungsi Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, ini berarti seseorang dapat membuat hukum selain dari hukum yang telah ditetapkan oleh Allah, menurut Islam ini adalah syirik, kerena satu-satunya yang berhak membuat hukum hanyalah Allah semata.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (Al A’raf: 54)

“Katakanlah: “Sesungguhnya Aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan dia pemberi keputusan yang paling baik”. (Al An’am: 57)

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Yusuf: 40)

Sumber dari segala sumber hukum menurut Islam adalah Allah semata, Dia-lah yang berhak menciptakan dan mengambil keputusan tentang sesuatu hukum, selainnya tidak berhak sama sekali. Allah memerintahkan kepada mereka yang mengakui dirinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya agar memutuskan semua perkara dengan hukum yang telah diturunkan Allah, jika mereka tidak berhukum dengan yang diturunkan Allah, maka jelas ia kafir, zholim dan fasiq. Allah berfirman:


“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (Al Maidah: 49)


“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali”. (Asy Syura: 10)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-Nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (Al Maidah: 44)

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (Al Maidah: 45)

“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya43. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik44”. (Al Maidah: 47)

Segala sumber dari segala sumber hukum dipermukaan bumi ini hanya wahyu yang diturunkan Allah, inilah konsepsi Islam, seseorang diperbolehkan membuat hukum, keputusan dan peraturan apabila tidak menyimpang dari hukum yang telah ditetapkan Allah namun jika berdasarkan pada rasio dan nafsu belaka jelas hal ini tidak dapat diterima sama sekali oleh Islam.

Menyatakan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah musyrik, benar-benar musyrik yang nyata!!! Jika seorang Muslim Indonesia mengakuinya, janganlah sebut dirinya lagi sebagai orang Islam lagi, karena jika ia menyatakannya dengan penuh kesadaran dan pengetahuan, maka jelas akan mengeluarkannya dari aqidah Islam.
------------------

Musyrikin Di Jaman Sekarang


Cuplikan berita:

Larungkan Sesaji Kepala Sapi Untuk Sang Danyang Laut
Upaya Nelayan Tuban Akhiri Paceklik Ikan
--------

Ribuan warga NU Tuban geler sesaji laut.
Paceklik saat melaut mencari ikan ternyata tidak hanya disebabkan oleh besarnya ombak dan cuaca. Bagi keyakinan nelayan, kurangnya sesaji kepada danyang (penguasa) laut menjadi salah satu faktornya. Lalu bagaimana mereka berusaha mengakhiri paceklik ini?

Untuk mengakhiri paceklik itu, Rabu (22/9) kemarin para nelayan di Tuban, utamanya di wilayah Kelurahan Karangsari, melakukan ritual larung sesaji dengan memancang kepala sapi di tengah laut.

Kaum nelayan melakukan ritual larung secara khusuk dengan melepas sesaji yang dimuat di miniatur kapal pursine. Mereka ikhlas dan pasrah melakukan kegiatan tahunan tersebut. Dalam keyakinan nelayan, melalui ritual itu, Danyang (penguasa) laut bakal memberi berkah bagi nelayan, setelah mengalami paceklik tangkapan ikan sejak beberapa bulan terakhir ini.

�Biasanya kalau bekakak (miniature kapal pursine dengan perangkat sesajinya) sudah dilarung, Mbah Danyang akan memberi panen ikan kepada kami,� kata koordinator larung sesaji, Abdul Muin, di sela-sela acara di pantai Kelurahan Karangsari, Tuban.

Dalam keyakinan nelayan, larung sesaji dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada penguasa laut. Penguasa laut harus diberi bagian dari pendapatan nelayan di laut. Itu sudah lumrah, karena nelayan adalah bagian dari laut. �Ini tradisi turun temurun Mas, makanya kalau tidak dilakoni bakal kena marah Mbah Danyang laut,� ungkap Sumali nelayan lainnya.

Dalam prosesinya sesaji diusung para nelayan dari pusat kampung nelayan menuju pantai. Sementara miniature kapal dipanggul empat nelayan muda, para sesepuh nelayan dan ratusan nelayan lain mengiringi di belakangnya.

Sepanjang perjalanan sekitar 1 km, mereka komat-kamit membaca mantra. Sebelum sesaji dilarung dinaikkan perahu, para nelayan berkumpul membaca doa bersama. Doa pamungkas sebelum sesaji dilarung.

Di tengah-tengah pelaksanaan ritulan larung sesaji tiba-tiba hujan gerimis turun dan disertai menggelegarnya petir. Dan tak lama kemudian langit menjadi gelap dan turun hujan deras. "Ini pertanda sesaji kita diterima sang Mbah Danyang," ungkap kiai haji Abdul Ghopar.
Hujan yang begitu deras itu tidak berlangsung lama dan langsung mereda ketika sejumlah nelayan melarung kepala sapi dengan kembang tujuh rupa ke tengah laut.

------------------------------------------------------------

Pembahasan:

Tumbal dan Sesajen; Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah

بسم الله الرحمن الرحيم

Ritual mempersembahkan tumbal atau sesajen kepada makhuk halus/jin yang dianggap sebagai penunggu atau penguasa tempat keramat tertentu adalah kebiasaan syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk) yang sudah berlangsung turun-temurun di masyarakat kita. Mereka meyakini makhluk halus tersebut punya kemampuan untuk memberikan kebaikan atau menimpakan malapetaka kepada siapa saja, sehingga dengan mempersembahkan tumbal atau sesajen tersebut mereka berharap dapat meredam kemarahan makhluk halus itu dan agar segala permohonan mereka dipenuhinya.

Kebiasan ini sudah ada sejak zaman Jahiliyah sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan tauhid (peribadatan/penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata) dan memerangi syirik dalam segala bentuknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasannya ada beberapa orang dari (kalangan) manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Qs. al-Jin: 6).

Artinya, orang-orang di zaman Jahiliyah meminta perlindungan kepada para jin dengan mempersembahkan ibadah dan penghambaan diri kepada para jin tersebut, seperti menyembelih hewan kurban (sebagai tumbal), bernadzar, meminta pertolongan dan lain-lain.[1]

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإنْسِ، وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا، قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Dia berfirman), ‘Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,’ lalu berkatalah teman-teman dekat mereka dari golongan manusia (para dukun dan tukang sihir), ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapatkan kesenangan/manfaat dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman, ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, sedang kalian kekal didalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).’ Sesungguhnya Rabb-mu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS al-An’aam:128).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Jin (syaitan) mendapatkan kesenangan dengan manusia menaatinya, menyembahnya, mengagungkannya dan berlindung kepadanya (berbuat syirik dan kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala). Sedangkan manusia mendapatkan kesenangan dengan dipenuhi dan tercapainya keinginannya dengan sebab bantuan dari para jin untuk memuaskan keinginannya. Maka, orang yang menghambakan diri pada jin, (sebagai imbalannya) jin tersebut akan membantunya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.”[2]

Hukum Tumbal dan Sesajen dalam Islam

Mempersembahkan kurban yang berarti mengeluarkan sebagian harta dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala[3], adalah suatu bentuk ibadah besar dan agung yang hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’” (Qs. al-An’aam: 162-163).

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka, dirikanlah shalat karena Rabb-mu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan berkurbanla.” (Qs. al-Kautsar: 2).

Kedua ayat ini menunjukkan agungnya keutamaan ibadah shalat dan berkurban, karena melakukan dua ibadah ini merupakan bukti kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pemurnian agama bagi-Nya semata-mata, serta pendekatan diri kepada-Nya dengan hati, lisan dan anggota badan, juga dengan menyembelih kurban yang merupakan pengorbanan harta yang dicintai jiwa kepada Dzat yang lebih dicintainya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.[4]

Oleh karena itu, maka mempersembahkan ibadah ini kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala (baik itu jin, makhluk halus ataupun manusia) dengan tujuan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepadanya, yang dikenal dengan istilah tumbal atau sesajen, adalah perbuatan dosa yang sangat besar, bahkan merupakan perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam (menjadi kafir).

FITNAH ITU DATANGNYA DARI ARAH TIMUR TEPATNYA DARI PULAU JAWA

Kita sering mendengar istilah “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”. Namun rupanya tidak banyak yang tahu darimana istilah ini berasal, dan apa makna sebenarnya dari kalimat tersebut. Pokoknya asal pakai saja, dan ngaku-ngaku itu ajaran Islam, karena kalimat tersebut ‘kelihatannya’ berasal dari Al Qur’an.

Dalam bahasa sehari-hari kata ‘fitnah’ diartikan sebagai penisbatan atau tuduhan suatu perbuatan kepada orang lain, dimana sebenarnya orang yang dituduh tersebut tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan. Maka perilaku tersebut disebut memfitnah. Tapi apakah makna ‘fitnah’ yang dimaksud di dalam Al Qur’an itu seperti yang disebutkan itu? Mari kita telaah.

Di dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh (2) ayat 191 tercantum kalimat “Wal fitnatu asyaddu minal qotli….” yang artinya

“Dan fitnah itu lebih sangat (dosanya) daripada pembunuhan..”.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa Imam Abul ‘Aliyah, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, Al Hasan, Qotadah, Ad Dhohak, dan Rabi’ ibn Anas mengartikan “Fitnah” ini dengan makna “Syirik”. Jadi Syirik itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan.

Ayat tersebut turun berkaitan dengan haramnya membunuh di Masjidil Haram, namun hal tersebut diijinkan bagi Rasulullah manakala beliau memerangi kemusyrikan yang ada di sana. Sebagaimana diketahui, di Baitullah saat Rasulullah saw diutus terdapat ratusan berhala besar dan kecil. Rasulullah diutus untuk menghancurkan semuanya itu. Puncaknya adalah saat Fathu Makkah, dimana Rasulullah saw mengerahkan seluruh pasukan muslimin untuk memerangi orang-orang musyrik yang ada di Makkah.

Kemudian juga di surat Al Baqoroh (2) ayat 217, disebutkan “Wal fitnatu akbaru minal qotli…” yang artinya

“Fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan..”.

Ayat ini turun ketika ada seorang musyrik yang dibunuh oleh muslimin di bulan haram, yakni Rajab. Muslimin menyangka saat itu masih bulan Jumadil Akhir. Sebagaimana diketahui, adalah haram atau dilarang seseorang itu membunuh dan berperang di bulan haram, yakni bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram.

Melihat salah seorang kawan mereka dibunuh, kaum musyrikin memprotes dan mendakwakan bahwa Muhammad telah menodai bulan haram. Maka turunlah ayat yang menjelaskan bahwa kemusyrikan dan kekafiran penduduk Makkah yang menyebabkan mereka mengusir muslimin dan menghalangi muslimin untuk beribadah di Baitullah itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang beriman.
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (al-Jin: 6)

Terhadap segala bentuk penyembahan walau yang disembah berbeda satu dengan yang lain, Nabi tidak membedakannya. Nabi memerangi segala bentuk kesyirikan. Firman-Nya:

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (al-Anfal: 39)

Menurut Syaikh Muhammad bin abdul wahab, yang dimaksud fitnah dalam ayat ini adalah kesyirikan. Dengan demikian, maksud ayat tersebut:

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah….”

adalah sampai tidak ada lagi perbuatan syirik kepada Allah, dan menjadikan agama itu semata-mata hanya bagi Allah.

Tak ada satupun ayat di dalam Al Qur’an yang mengartikan kata “fitnah” dengan arti sebagaimana yang dipahami oleh kaum aswaja atau nahdiyin, yakni menuduhkan satu perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang yang dituduh. Kata ‘fitnah’ di dalam Al Qur’an memang mengandung makna yang beragam sesuai konteks kalimatnya. Ada yang bermakna bala bencana, ujian, cobaan, musibah, kemusyrikan, kekafiran, dan lain sebagainya. Maka memaknai kata ‘fitnah’ haruslah dipahami secara keseluruhan dari latar belakang turunnya ayat dan konteks kalimat , dengan memperhatikan pemahaman ulama tafsir terhadap kata tersebut.

Memaknai kata-kata di dalam Al Qur’an dengan memenggalnya menjadi pengertian yang sepotong-sepotong serta meninggalkan makna keseluruhan ayat, hanya akan menghasilkan pemahaman yang melenceng dan keliru akan isi Kitabullah. Dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang hendak menyalahgunakan Kitabullah demi mengesahkan segala perilakunya. Dan ini juga dilakukan oleh orang-orang yang hendak menyelewengkan makna Al Qur’an dari pengertian yang sebenarnya.

Wallahu A'lam

Hari Raya Kliwonan

Written By Anonim on Senin, 16 September 2013 | 18.43

Seperti malam-malam lainnya. Malam Jum’at –terkhusus malam Jum’at Kliwon- adalah malam yang disakralkan oleh sebagian orang yang masih berpegang teguh kepada adat istiadat dan keyakinan-keyakinan tertentu. Bahkan telah terbentuk semacam aksioma bahwa malam Jum’at –khususnya kliwon- adalah malam yang penuh kengerian, mencekam dan membuat bulu kuduk merinding. Berbagai mitos dan keyakinan marak tersebar sehingga menghasilkan bermacam tradisi yang biasa dihadirkan di malam ini.

Malam Jum’at bagi sebagian orang adalah malam misteri. Oleh karena itu, jika kita menilik kembali berbagai acara yang digelar di malam Jum’at sarat akan muatan misteri atau mistik. Sebut saja berbagai tayangan di televisi yang ditayangkan setiap malam Jum’at, maka kita akan dengan mudahnya mendapati berbagai acara yang berbau mistik dan dunia ghaib. Inilah salah satu sebab kenapa malam Jum’at identik dengan berbagai kengerian, misteri, seram, angker dan yang semacamnya.

Tidak kalah hebohnya dengan berbagai tayangan televisi, di dunia nyata pun sama seperti itu. Berbagai acara, upacara, ritual dan keyakinan mistik merebak dan marak dilakukan pada tiap malam Jum’at –terkhusus malam Jum’at Kliwon-. Ada beragam fenomena yang bisa kita tangkap berkenaan dengan malam Jum’at, mulai dari peristiwa, upacara, ritual, even serta kegiatan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Munculnya berbagai mitos dan keyakinan yang ditularkan dari mulut ke mulut yang pada ujungnya akan menimbulkan berbagai hal, terutama kegiatan-kegiatan mistik.


Tempat-Tempat yang Dianggap Angker dan Keramat di Malam Jum’at

Kengerian. Itulah opini yang muncul pertama kali dalam benak kita ketika kita melewati tempat-tempat yang dianggap angker dan keramat. Terlebih lagi jika hal itu kita lakukan di malam Jum’at. Dulu ketika saya masih kecil, akan selalu muncul rasa takut ketika saya melewati sebuah pekuburan. Dapat dipastikan jika saya melewati area pekuburan, maka saya akan mempercepat lajunya jalan kaki atau ayunan sepeda saya. Bahkan bisa jadi saya akan berlari ketika melewati area pekuburan dengan harapan saya bisa melalui kuburan itu secepatnya. Itu terjadi di malam-malam selain malam Jum’at. Adapun ketika malam Jum’at, maka kengerian semakin menyeruak ketika saya melewati pekuburan, meskipun saya melaluinya dengan teman-teman sebaya yang sama-sama kecil. Bisa dipastikan, saya dan teman-teman akan berpacu lari demi terjauhkan dari pekuburan.

Itulah fenomena yang terjadi kepada saya di saat saya masih kecil dan itu adalah pekuburan biasa. Berbeda dan bahkan lebih dahsyat lagi fenomena yang terjadi di pekuburan-pekuburan yang dikeramatkan oleh manusia semisal kuburan orang-orang yang dianggap shaleh dan diwalikan. Jika pada malam-malam biasa selain malam Jum’at kuburan-kuburan semacam itu ramai dikunjungi orang, maka keadaannya menjadi semakin ramai jika memasuki malam Jum’at. Banyak orang yang melakukan berbagai ritual dan upacara di pekuburan orang-orang yang dianggap shaleh itu.

Bukan hanya kuburan saja yang lebih dikeramatkan pada malam Jum’at. Ada beberapa tempat lainnya yang dikeramatkan pada malam Jum’at. Sebagai misal:


Pantai Parangtritis

Pantai Parangtritis adalah sebuah pantai yang terletak di pesisir selatan Jogjakarta. Pantai Parangtritis menempati tempat pertama yang menjadi tempat tujuan kunjungan wisata. Bukan hanya wisata alam saja, tetapi juga mencakup “wisata mistik”, khususnya pada malam Jum’at. Pada malam Jum’at –khususnya malam Jum’at Kliwon- berbagai upacara dan ritual mistik dilaksanakan di pantai ini. Ritual dan upacara ini berkaitan erat dengan keyakinan Nyi Roro Kidul, yang diyakini sebagai penguasa laut selatan pulau Jawa. Pada ritual di malam Jum’at Kliwon ini, berbagai sesajen dan kembang yang berwarna-warni dilarung ke laut. Ritual semacam ini bertujuan untuk meminta keselamatan dari penguasa laut selatan.

Nyi Roro Kidul dan kisahnya sudah sedemikian melegenda di masyarakat kita. Tidak hanya di masyarakat pantai selatan, bahkan masyarakat di tempat lainpun umumnya mengenal mitos tentang Nyi Roro Kidul. Dan sekali lagi, malam Jum’at Kliwon tidak lepas dari mitos ini. Di antara ritual lain yang dilakukan pada malam Jum’at Kliwong oleh masyarakat selain masyarakat pantai selatan adalah ritual pertemuan ghaib yang dilakukan di sebuah kamar atau ruangan yang dikosongkan khusus untuk ritual ini. Sebagaimana ruangan khusus yang disediakan oleh sebuah hotel untuk Nyi Roro Kidul.


Taman Wisata Guci

Tegal, selain terkenal dengan teh pocinya yang khas, juga dikenal dengan taman wisata guci. Teh poci adalah teh hangat kental dan manis yang dimasukkan ke dalam poci (penuang air yang terbuat dari tanah liat). Dengan perpaduan inilah, teh menjadi sebuah sajian yang unik dan khas. Sebagaimana teh poci, taman wisata guci adalah sebuah tempat wisata yang mengalirkan air hangat, ibarat sebuah poci yang mengalirkan air hangat, terus menerus tanpa henti.

Konon ceritanya, air panas Guci adalah air yang diberikan walisongo kepada orang-orang yang mereka utus untuk menyiarkan agama Islam ke Jawa Tengah, khususnya Tegal. Karena air itu ditempatkan di sebuah guci, dan berkhasiat mendatangkan berkah, masyarakat menyebut lokasi pemberian air itu dengan nama Guci. Tapi karena air pemberian wali itu sangat terbatas, pada malam Jum’at Kliwon salah seorang sunan menancapkan tongkat saktinya ke tanah. Maka mengalirlah air hangat tanpa belerang.

Objek wisata ini banyak dikunjungi wisatawan pada malam Jum’at Kliwon. Banyak orang yang ngalap berkah dengan mandi di pemandian air panas ini. Konon, kalau mandinya pada jam dua belas malam dengan memohon sesuatu, maka permohonan apapun akan dikabulkan. Kepercayaan ini sudah menjadi kepercayaan yang turun menurun.

Itu dua contoh dari tempat-tempat yang dikeramatkan dan bertambah keramat ketika malam Jum’at.


Ritual Ghaib pada Malam Jum’at

Banyak sekali ritual ghaib yang dilakukan pada malam Jum’at –khususnya malam Jum’at Kliwon-. Selain sesajen, masih banyak lagi ragam ritual yang dilakukan di malam ini, salah satunya adalah memandikan benda-benda pusaka

Diantara keyakinan yang menyeruak di malam Jum’at, bahwa malam Jum’at diyakini mengandung nilai magis yang kuat sehingga menjadi waktu yang favorit untuk melakukan ritual-ritual ghaib, diantaranya adalah memandikan benda-benda pusaka, semisal keris dan lainnya.

Salah satu contoh ritual ini adalah ritual “Ngalungsur” di daerah Garut. Ngalungsur atau turun jimat atau pajang jimat adalah sebuah upacara tradisional yang dilakukan antara tanggal 12-14 Maulid. Inti dari tradisi ini adalah penghormatan terhadap Sunan Godog atas jasanya menyebarkan Islam di daerah Garut. Ungkapan hormat ini direalisasikan dengan cara merawat, menjaga dan melestarikan benda-benda pusaka seperti berbagai bentuk dan jenis keris, kitab Al-Qur’an, Cis, dan sebagainya yang dianggap sebagai peninggalan sunan Godog.


Kemuliaan Malam Jum’at, Antara Mitos dan Islam

Itu tadi sekilas contoh dari realita masyarakat dalam memuliakan malam Jum’at dengan berbagai ritual dan upacara. Kalau kita mau mengupasnya lebih banyak lagi tentu tidak akan cukup terkupas dalam catatan singkat ini berkenaan dengan berbagai pengeramatan malam Jum’at di masyarakat Indonesia.

Bicara soal kemuliaan dan pemuliaan terhadap sesuatu, sebagai seorang muslim kita harus tetap berpatokan kepada agama kita ini, bukan berpatokan kepada tradisi dan kepercayaan yang bersifat kedaerahan. Mungkin saja kita bisa bisa bersepakat tentang satu hal, bahwa antara Islam dan tradisi masyarakat memiliki kesamaan dalam keyakinan bahwa malam Jum’at adalah malam yang mulia. Akan tetapi ketika kita berbicara tentang tatacara pemuliaannya, maka Islam dan tradisi masyarakat memiliki perbedaan yang amat jauh.

Malam Jum’at, jika kita meniliknya dari syari’at Islam, adalah malam permulaan hari Jum’at. Perlu kita ketahui bersama, bahwa permulaan hari dalam Islam dihitung mulai dari terbenamnya matahari. Kita ambil contoh hari Jum’at. Jika kita mengembalikannya kepada penghitungan hari dalam Islam, maka hari Jum’at dimulai ketika matahari terbenam di ufuk barat. Kamis malam atau malam Jum’at itulah permulaan hari Jum’at. Perhitungan ini sangat berbeda dengan perhitungan masehi/syamsiyah yang memulai hari ketika telah lewat pukul 00.00.

Satu hal yang wajib kita yakini, bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi ini adalah kepunyaan Allah. Hanya Allah lah yang berhak mengatur segala sesuatu. Termasuk dalam menentukan dan menetapkan kemuliaan hari Jum’at. Kemuliaan hari Jum’at tidak ditentukan serta tidak ditetapkan berdasarkan tradisi, mitos dan keyakinan masyarakat tertentu. Manusia tidak memiliki hak untuk menentukan dan menetapkan kemuliaan atau keistimewaan sebuah hari. Jika manusia yang menetapkannya, maka sungguh akan terlalu banyak campur tangan akal, perasaan, latar belakang budaya, sosial dan tradisi seseorang sehingga penetapan itu didasari pada subyektivitas dengan berbagai kekurangannya sebagai manusia. Ini tidak bisa kita terima.

Jika kita melihat realita masyarakat kita, alangkah banyaknya campur tangan masyarakat kita dalam menentukan dan menetapkan kemuliaan terhadap sesuatu. Berapa banyak kuburan-kuburan yang dikeramatkan sebagai akibat dari campur tangan manusia dalam menentukan dan menetapkan kemuliaan sesuatu. Berapa banyak tempat-tempat keramat, pohon-pohon keramat, batu-batu keramat seperti batu Ponari, benda-benda keramat dan lain sebagainya sebagai akibat dari campur tangan manusia dalam menentukan dan menetapkan kemuliaan sesuatu. Sehingga hal-hal tersebut menjadi sebuah nilai kebenaran dalam masyarakat kita. Maka, ketika ada dai yang menyeru mereka untuk meninggalkan hal-hal yang dikeramatkan tersebut, mereka marah. Bahkan mereka menganggap orang-orang yang mendakwahkan kepada mereka agar mereka meninggalkan hal-hal tersebut, mereka anggap orang-orang yang berdakwah tersebut sebagai orang-orang yang sesat, orang-orang yang jumud, tidak taat adat dan tradisi ajaran nenek moyang. Ketika mereka diseru agar mereka meninggalkan hal-hal tersebut, mereka tidak mengindahkannya dan tetap bersikeras untuk mengikuti ajaran nenek moyang mereka itu. Bahkan di sebagian daerah, tempat-tempat semacam itu dijadikan sebagai cagar budaya dan tempat wisata religi.

Hari Jum’at sebagaimana hari-hari lainnya. Hari Jum’at pada hakikatnya tidak memiliki kemuliaan jika Allah tidak menyari’atkan berbagai macam ibadah di dalamnya. Jadi, kemuliaan hari Jum’at tidak terletak pada hari Jum’at itu sendiri, tetapi kemuliaan itu berasal dari berbagai ibadah yang disyari’atkan oleh Allah pada hari itu. Oleh karena itu, jika seseorang ingin mendapatkan kemuliaan di hari Jum’at, maka hendaknya ia melakukan berbagai ibadah yang disyari’atkan secara maksimal sesuai dengan kemampuannya pada hari Jum’at. Jika tidak demikian, maka Jum’at baginya adalah sama seperti hari-hari lainnya. Jadi, kemuliaan hari Jum’at ditentukan oleh dalil syar’i.

Permasalahan yang terjadi dalam masyarakat kita adalah ragam tradisi dan keyakinan yang mengakar yang menempatkan hari Jum’at pada tingkat kemuliaan yang bersifat mistis. Semua itu tidak terlepas dari akar budaya Hindu yang masih melekat pada sebagian masyarakat kita. Bisa kita katakan, sisa atau ampas dari tradisi Hindu masih ada pada masyarakat kita yang tertuang dalam berbagai tradisi kemasyarakatan. Meskipun mereka poles dengan polesan Islam, akan tetapi masih ada sisa-sisa tradisi Hindu di dalamnya contoh tradisi hari kematian yang meliputi tujuh hari, hari keempat puluh, keseratus, dan seribu hari.

Kemuliaan malam Jum’at (hari Jum’at) hanya Allah yang berhak menetapkannya Oleh karena itu, jika kita ingin mendapatkan kemuliaan malam Jum’at (hari Jum’at), maka dapatkanlah dengan cara melakukan berbagai ibadah yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya semampu kita, bukan dengan melakukan berbagai tradisi yang tidak memiliki landasan hukum dalam Islam. Terlebih lagi jika tradisi itu terdapat unsur kesyirikan kepada Allah. Allahua’lam bish shawab.

---------------------------------

Aswaja Abangan, Ahli Tauhid Atau Ahli Syirik ???

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam untuk Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya serta umatnya yang senantiasa berpegang teguh dengan sunnahnya dan meniti jalan hidupnya hingga hari yang dijanjikan.

Allah telah menurunkan beberapa kitab, mengutus beberapa rasul, dan telah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dia pula yang telah menciptakan kita dan menciptakan segala sesuatu supaya Dia saja yang diibadahi dan ditaati dan dikufuri segala yang disembah selain-Nya.

Allah Ta'ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56) maknanya agar mereka mentauhidkan-Ku (Allah).

Perintah Allah yang teragung adalah tauhid, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata, Dzat yang tiada sekutu bagi-Nya. Allah Ta'ala berfirman,

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

Sebaliknya, larangan yang paling besar atas kita adalah syirik (mengangkat sekutu bagi Allah) dalam ibadah kepada-Nya. Dia berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun." (QS. An-Nisa': 36)

Mentauhidkan Allah dengan beribadah kepada-Nya semata, Dzat yang tidak memiliki sekutu. Tauhid ini juga menuntut untuk mentauhidkan-Nya dalam nama dan sifat-Nya. Yaitu dengan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat untuk Allah yang telah Dia tetapkan sendiri untuk diri-Nya dan yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya, tanpa tahrif dan ta'thil, tanpatakyif, tamtsil dan, tasybih. Juga menuntut untuk berwala'(loyal) kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin danbara' (berlepas diri) dari musuh-musuh Allah dan agama-Nya. Inilah perbedaan antara ahli tauhid dan ahli syirik.

Seseorang bisa menjadi muslim yang lurus dan bertauhid jika meninggalkan syirik dengan sengaja dan sadar, dan mentauhidkan-Nya dengan hanya melakukan ibadah hanya kepada-Nya.


Apa itu ibadah?

Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup apa saja yang dicintai dan diridlai Allah, berupa perkataan atau perbuatan yang dzahir maupun yang batin. Seperti shalat, zakat, shaum, haji, jihad, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, cinta dan loyal kepada kaum mukminin, berlepas diri dan benci terhadap orang kafir, doa, rasa takut, cinta, harapan, bertawakkal, khusyu', taubat, isti'anah, istighatsah, berkorban, bernadzar, dan bentuk ibadah lainnya. Tidak boleh ada tujuan hidup selain ridla Allah, mengharap pahala dari-Nya, dan usaha tersebut harus ittiba' (mengikuti) sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup apa saja yang dicintai dan diridlai Allah, berupa perkataan atau perbuatan yang dzahir maupun yang batin.

Berarti setiap yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya adalah sesuatu yang dicintai dan diridlai Allah. Sebaliknya setiap yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya berarti tidak dicintai dan diridlai Allah.

Allah berfirman,

وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

"Dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridai bagimu kesyukuranmu itu." (QS. Az-Zumar: 7)

Dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka pada kalian jika melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desa-desus, banyak

mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.”(HR. Muslim)

Berarti setiap yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya adalah sesuatu yang dicintai dan diridlai Allah.
Sebaliknya setiap yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya berarti tidak dicintai dan diridlai Allah.

Ibnu Taimiyah berkata, "agama Islam dibangun di atas dua landasan utama, pertama, Hanya Allah saja yang diibadahi dan tidak disekutukan dengan apapun. Kedua, beribadah kepada Allah dengan syariat yang ditetapkan-Nya melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dua hal ini adalah hakikat ucapan kita, Asyhadu anlaa Ilaaha Illallaah wa Asyhadu Anna Muhammadan 'Abduhu wa Rasuuluh (Aku bersaksi tiada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya)."

Agama Islam dibangun di atas dua landasan utama, pertama, Hanya Allah saja yang diibadahi dan tidak disekutukan dengan apapun. Kedua, beribadah kepada Allah dengan syariat yang ditetapkan-Nya melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Al-Ilah adalah yang dipertuhankan oleh hati dengan ibadah, isti'anah, cinta, mengagungkan, takut, berharap, membesarkan dan memuliakan. Allah 'azza wa jalla memiliki hak yang tak seorangpun berserikat di dalamnya. Maka tidak boleh beribadah dan berdoa kecuali kepada Allah, dan tidak boleh ada yang ditakuti dan ditaati selain-Nya.

Sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanyalah orang yang menyampaikan perintah, larangan, yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah. Berarti perkara halal adalah apa yang dihalalkannya dan perkara haram adalah yang diharamkannya sedangkan agama adalah apa yang diajarkannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanya sebagai perantara antara Allah dan hamba-Nya dalam menyampaikan perintah dan larangan-Nya, janji dan ancaman-Nya, yang dihalalkan dan diharamkan-Nya, dan seluruh kalam Allah yang disampaikannya." (Majmu' Fatawa: 1/126)

Sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanyalah orang yang menyampaikan perintah, larangan, yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah.

Tauhid berkisar pada satu ayat yang menjadi inti dari surat Al Fatihah, yaitu Iyyaaka Na'budu wa Iyyaaka Nasta'iin"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 7) agama Allah, semuanya, terkait dengan ayat ini.

Iyyaka Na'budu, tujuan seseorang dalam berbuat adalah taat kepada Allah 'azza wa jalla dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam.

Iyyaka Nasta'in, agar tidak meminta apa yang ia butuhkan kecuali hanya kepada Allah dan tidak memohon bantuan untuk meraihnya kecuali kepada-Nya 'Azza wa Jalla.

Sedangkan syirik menjadikan selain Allah sebagai tujuan dalam berbuat dan mentaati perintah-perintah selain Allah yang bertentangan dengan perintah Allah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanya sebagai perantara antara Allah dan hamba-Nya dalam menyampaikan perintah dan larangan-Nya, . . .


Tauhid ibadah harus dengan ilmu

Ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak mungkin teralisasi kecuali dengan ilmu dan ma'rifah. Allah tidak diibadahi kecuali dengan ilmu. Sedangkan syirik menjadi bukti adanya kejahilan terhadap Allah. Maka seorang musyrik tidak mengenal Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Allah berfirman, "artinya: Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah." (QS. Muhammad 47:19)

Dalam Shahihain, dari Ibnu Abbas radliyallah 'anhumaberkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Mu'ad bin Jabal ketika mengutusnya ke negeri Yaman; "Engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, maka serulah mereka agar bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, maka beritahukan pada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam . . ."

Ibnu Hajar Al 'Asqalani berkata, "dalam riwayat Rauh bin Al Qashim dari Ibnu Abbas radliyallah 'anhuma: yang pertama harus engkau dakwahkan pada mereka adalah agar mereka beribadah kepada Allah. Jika mereka mengenal Allah . . ."

Dalam riwayat al-Fadhl bin Al 'Ala, dari Ibnu Abbas, agar mereka mentauhidkan Allah. Jika mereka mengetahui hal itu . . ."

Kompromi dari dua riwayat ini, bahwa maksud ibadah kepada Allah adalah mentauhidkan-Nya. Mentauhidkan-Nya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Keduanya menjadi dasar agama ini, maka tidak sah bentuk ibadah dalam Islam tanpa diawali dengan mengikrarkan dua kalimat ini. ( Fathul Baari: 3/418)

Keduanya (Kalimat Syahadat) menjadi dasar agama ini, maka tidak sah bentuk ibadah dalam Islam tanpa diawali dengan mengikrarkan dua kalimat ini.

Al-Qadli 'Iyadl menyatakan, berdasarkan hadits ini menunjukkan bahwa Ahlul Kitab tidak mengenal Allah Ta'ala. Beliau berkata, "tidak mengenal Allah orang yang mendustakan Rasul-Nya."

Ibnul Qayyim berkata, "tidak mungkin melaksanakan ibadah yang menjadi hak Allah atas seluruh hamba kecuali dengan ilmu. Dan tidak akan mendapat ilmu kecuali dengan mencarinya." (Miftah Daar As Sa'adah: 1/87)

Beliau berkata lagi, "Namun urusan ini seperti yang dikatakan Umar bin Al Khathab radliyallah 'anhu: 'sesungguhnya tali Islam lepas sedikit demi sedikit jika hadir di dalam Islam orang yang tidak memahami kejahiliyahan.' Hal ini karena ia tidak mengenal kajahiliyahan dan kesyirikan. Perkara yang dicela Al Qur'an terjadi dilakukannya, diakui, didakwahkan, dibenarkan, dan dianggap kebaikan. Dia tidak tahu bahwa hal itu termasuk kebiasaan jahiliyah atau yang setingkat dengannya, lebih buruk atau di bawahnya sedikit. Lalu ikatan Islam lepas dari hatinya, menganggap yang ma'ruf adalah mungkar, sementara yang mungkar adalah ma'ruf, bid'ah sebagai sunnah, dan sunnah sebagai bid'ah, mengkafirkan seseorang karena berpegang dengan iman dan tauhid, membid'ahkan orang yang konsisten berittiba' kepada Rasulullah dan menjauhi ahlul ahwa' wal bida'." (Madarijus Salikin: 1/ 351)

Ibnul Qayyim mengatakan, "dasar kesyirikan dan kekufuran adalah berkata tentang Allah tanpa ilmu. Orang musyrik mengklaim bahwa orang yang mengambil sesembahan selain Allah akan mendekatkan dirinya kepada Allah dan memberi syafaat di sisi-Nya, Allah akan mengabulkan permintaannya melalui perantara tadi sebagaimana adanya para perantara bagi raja. Setiap musyrik berkata tentang Allah tanpa ilmu, bukan sebaliknya." (Madarijus Salikin: 1/ 378)

Syaikh Abu Bashir Asy Syami berkata, "tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksud dengan ilmu adalah yang bisa menambah keimanan dan keyakinan bagi pemiliknya, lalu mendorongnya untuk berbuat dan bergerak guna meninggikan kalimat dien ini."

"tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksud dengan ilmu adalah yang bisa menambah keimanan dan keyakinan bagi pemiliknya, lalu mendorongnya untuk berbuat dan bergerak guna meninggikan kalimat dien ini."

Ilmu yang mendorong untuk berloyal karena Allah dan memusuhi karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.

Ilmu yang mendorongnya untuk memerangi musuh-musuh tauhid dan ahlinya, serta membela dan menolong ahli tauhid dan pasukannya.

Ilmu yang menghantarkan kepada pemahaman yang hakiki terhadap makna tauhid dan tuntutannya dan mendorong untuk beramal dan beriltizam (konsisten). Yaitu ilmu yang bersumber dari Al Qur'an dan As Sunnah, jauh dari teori ahli kalam dan ideologi mereka.

Adapun ilmu yang berhenti pada analisa yang tidak mendasar dalam hati sehingga membentuk keyakinan, tidak mendorong untuk iltizam dan beramal, maka tidak berguna sedikitpun baginya, tidak menambah kecuali dosa.

Adapun ilmu yang berhenti pada analisa yang tidak mendasar dalam hati sehingga membentuk keyakinan, tidak mendorong untuk iltizam dan beramal, maka tidak berguna sedikitpun baginya, tidak menambah kecuali dosa.

Pengetahuan seperti inilah yang dimiliki Iblis la'natullah, para ulama dan rahib ahli kitab. Ilmu mereka tidak memberi manfaat sedikitpun, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." Namun mereka tetap tidak mau mengikuti dan tunduk kepada ajaran dan petunjuk syariat, maka tidak memberi manfaat sedikitpun pengetahuan tersebut.


Ibadah kepada Allah harus dengan syariat yang ditentukan-Nya

Tidak boleh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali dengan syariat-Nya yang disampaikan oleh Nabi-Nyashallallahu 'alaihi wasallam. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan menerima amal apapun kecuali diniatkan hanya untuk Allah, Dzat yang tidak memiliki sekutu, dan sesuai dengan sunnah Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam.

Allah Ta'ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (QS. Al Bayyinah 98:5)

Kata haniif, maksudnya adalah sengaja meninggalkan kesyirikan dengan didasari ilmu dan pengetahuan.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "al Haniif, adalah orang yang berpaling dari syirik dengan sengaja. Maksudnya meninggalkannya karena mengetahuinya, dan menerima kebenaran secara keseluruhan, tidak ada yang bisa menghalanginya dan tidak ada yang bisa mengembalikannya kepada kesyikiran."

Orang-orang sesat dari kalangan musyrikin dan Nashrani serta orang-orang semisal mereka, juga melakukan ibadah dan kezuhudan, namun ditujukan kepada selain Allah atau tidak sesuai dengan perintah Allah. Sesungguhnya tujuan dan keinginan yang memberikan manfaat adalah keinginan untuk beribadah kepada Allah semata dan hanya mau beribadah dengan yang disyariatkan-Nya, bukan dengan syariat yang diada-adakan sendiri. Maka di atas dua dasar inilah agama Islam dibangun. Yaitu Allah semata yang diibadahi dan diibadahi dengan menggunakan syariat-Nya, bukan dengan aturan yang diada-adakan sendiri yang disebut dengan bid'ah. (Majmu' Fatawa, Ibnu Taimiyah: 18/173)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka tertolak." (Muttafaq 'alaih, lafadz milik Muslim)

Ibnu Mas'ud radliyallah 'anhu berkata, "ber-itiba'-lah jangan jadi mubtadi' (pembuat bid'ah), sungguh sudah cukup. Sesungguhnya setiap yang diada-adakan (dalam urusan ibadah) adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat." (Riwayat ad Darimi, al Baghawi, al Laalikaii, dan Ibnu Baththah)

Al Hasan al Bashri rahimahullah berkata, "dan selama-lamanya Allah tidak akan menerima sebuah amalan yang dilakukan seorang mubtadi' untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Baik itu shalat, puasa, zakat, haji, jihad, umrah dan shadaqah." Sampai beliau menyebutkan beberapa amal kebajikan. (Ibnu Baththah dalam kitab Syarh al Ibanah)

Mubtadi' adalah orang yang mengada-ada hal baru dalam agama yang bukan bagian darinya dan beribadah kepada Allah dengan selain syariat-Nya.

Mubtadi' adalah orang yang mengada-ada hal baru dalam agama yang bukan bagian darinya dan beribadah kepada Allah dengan selain syariat-Nya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata; "setiap amal bid'ah adalah kesesatan dalam beragama. Dasarnya berkata tentang Allah tanpa ilmu. Karena inilah para ulama salaf dan para imam sangat mengingkarinya dan menyatakan bahwa pelakunya termasuk penghuni bumi yang buruk. Mereka sangat menghawatirkan fitnahnya, dan benar-benar mengingkarinya tidak seperti mengingkari terhadap perbuatan hina, dzalim, permusuhan. Semua ini dikarenakan dahsyatnya bahaya dan daya rusak bid'ah terhadap agama, dan menghilangkan ajarannya. Allah Ta'ala telah mengingkari orang yang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu dalam masalah agama yang berasal dari dirinya sendiri tanpa ada argumentasi dari Allah. Dia berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah." (Madarijus Salikin: 1/157)

Beliau berkata lagi, "di antaranya: tidak boleh membiarkan tempat kesyirikan dan thaghut-thaghut setelah mampu menghancurkannya dan menghabisinya dalam satu hari. Itu semua merupakan syiar kekufuran dan kesyirikan yang merupakan kemungkaran terbesar. Tidak boleh membiarkannya barang sedikitpun setelah memiliki kekuatan. Seperti inilah hukum terhadap bangunan yang didirikan di atas kuburan yang dijadikan berhala dan tuhan yang disembah selain Allah. Dan batu-batu yang diagungkan dan dimintai berkah, di jadikan bernadzar dan diciumi, tidak boleh dibiarkan ada di muka bumi padahal mampu menghilangkannya . . ."

Para thaghut-thaghut yang disembah tadi tidak diyakini telah mencipta dan memberi rizki, tidak pula menghidupkan dan mematikan. Mereka melakukan itu karena meniru perbuatan saudara-saudara mereka dari kalangan musyrikin terhadap tuhan-tuhan mereka. Lalu mereka mengikuti adat kebiasaan umat-umat sebelum mereka, meniti langkah mereka setapak demi setapak, meniru mereka sedikit semi sedikit sehingga tersebarlah kesyirikan di tengah-tengah manusia karena kejahilan dan hilangnya ilmu. Hingga akhirnya yang baik dianggap buruk dan yang buruk dianggap baik, sunnah dianggap bid'ah dan bid'ah dianggap sunnah sehingga ajaran Islam menjadi sangat asing.

Jumlah ulama sedikit, orang bodoh banyak, bencana merata, dan kerusakan tersebar di daratan dan lautan disebabkan olah tangan manusia. Tetapi, masih akan ada sekelompok dari umat Muhammad yang tegak di atas kebenaran, berjihad melawan orang-orang musyrik dan ahli bid'ah hingga Allah mewariskan bumi ini dan para penghuninya kepada mereka, dan Allah adalah Waris yang paling baik.

. . . Allah tidak diibadahi kecuali dengan syariat yang ditetapkan oleh-Nya melalui lisan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Tidak boleh diibadahi dengan hawa nafsu dan anggapan-anggapan baik . .

Dan kami katakan, "Sesungguhnya Allah tidak diibadahi kecuali dengan syariat yang ditetapkan oleh-Nya melalui lisan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Tidak boleh diibadahi dengan hawa nafsu dan anggapan-anggapan baik yang dibuat para taghut melalui lisan para syetan."


Ibadah Tidak Boleh Dicampur Syirik

Allah, Dzat yang Mahabenar dan Maha tinggi, berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Seandainya mereka (para Nabi-nabi terdahulu) mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (QS. Al An'am 6:88)

Dan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu berkata, Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

"Aku adalah sekutu yang paling kaya, tidak butuh pada persekutuan. Siapa yang melakukan satu amalan, di dalamnya dia menyekutukan Aku dengan yang lain, pasti Aku tinggalkan dia dan sekutunya." (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Dien Islam dibangun di atas dua landasan dasar. Yaitu merealisasikan syahadat Laa Ilaaha Illallaah dan syahadat Muhammad Rasuulullaah.

Dien Islam dibangun di atas dua landasan dasar. Yaitu merealisasikan syahadat Laa Ilaaha Illallaah dan syahadat Muhammad Rasuulullaah. . .

Dasar pertama, janganlah engkau mengangkat tuhan yang lain bersama Allah. Jangan cintai makhluk seperti mencintai Allah. Jangan berharap kepada makhluk sebagaimana berharap kepada Allah. Jangan takut terhadap makhluk sebagaimana takut terhadap Allah. Siapa yang menyamakan makhluk dengan khaliq (pencipta) dalam sesuatu hal, maka dia telah menyamakannya dengan Allah. Dia termasuk orang yang mempersekutukan Tuhan mereka. Berarti dia telah mengangkat tuhan bersama Allah, walaupun di saat itu dia berkeyakinan Allah adalah Esa, satu-satu pencipta langit dan bumi.

Sesungguhnya kaum musyirikin Arab kala itu menyatakan bahwa Allah adalah Esa, satu-satunya yang mencipta langit dan bumi. Hal ini sebagaimana yang Dia firmankan:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab: 'Allah'." (QS. Luqman 31:25)

Bersamaan dengan itu, mereka berbuat syirik dengan menjadikan tuhan lain bersama Allah. Allah berfirman:

أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آَلِهَةً أُخْرَى قُلْ لَا أَشْهَدُ

"Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?" Katakanlah: 'Aku tidak mengakui'." (QS. Al An'am 6:19)

Allah berfirman lagi:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." (QS. Al Baqarah 2:165) Maka mereka menjadi orang musyrik karena mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Bukan karena mereka berucap: "sesungguhnya tuhan-tuhan kalian telah menciptakan (sesuatu) seperti yang Allah ciptakan." Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan: "Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" (QS. Al Ra'du 13:16)

Siapa yang menyamakan makhluk dengan khaliq (pencipta) dalam sesuatu hal, maka dia telah menyamakannya dengan Allah.

Ini adalah bentuk istifham inkari (kalimat pertanyaan untuk mengingkari) yang memiliki makna nafyun (meniadakan). Maknanya mereka tidak menjadikan sekutu bagi Allah yang dapat mencipta seperti ciptaan-Nya. Mereka mengakui bahwa sesembahan-sesembahan mereka tidak mencipta seperti ciptaan Allah. Mereka hanya menjadikan sesembahan-sesembahan itu sebagai pemberi syafa'at dan perantara. Allah Ta'ala berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللّهَ بِمَا لاَ يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي الأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: 'Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah'." (QS. Yunus 10:18)

"Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?.

Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?.

Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.

Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku." (QS. Yaasin 36:22-25)

Dasar kedua: kita menyembah Allah dengan menggunakan syariat-Nya melalui lisan para rasul-Nya. Kita tidak beribadah kecuali dengan sesuatu yang wajib atau yang sunnah, sedangkan amal mubah jika diniatkan ketaatan masuk dalam kategori ini. Dan doa masuk bagian ibadah. Siapa yang berdoa dan beristightsah kepada makhluk, yang sudah mati atau yang ghaib, padahal Allah dan rasul-Nya tidak memerintahkannya dalam bentuk wajib ataupun sunnah, maka dia telah berbuat bid'ah (mengada-adakan hal baru) dalam masalah agama. Dia berbuat syirik kepada Allah, Tuhan semesta alam, dan mengikuti selain jalan kaum mukminin. Siapa yang meminta kepada Allah Ta'ala melalui makhluk-Nya atau bersumpah kepadanya dengan nama makhluk-Nya, maka telah berbuat bid'ah yang tidak pernah Allah turunkan keterangan tentangnya. Jika dia mencela orang yang berusaha meluruskannya dan memusuhinya, maka termasuk orang dzalim, jahil, dan melampaui batas.

kita menyembah Allah dengan menggunakan syariat-Nya melalui lisan para rasul-Nya.

Jika dia menvonis dengan hal itu, sungguh dia telah memutuskan perkara dengan selain yang Allah turunkan. Hukumnya melanggar ijma' kaum muslimin. Dia disuruh taubat dari hukum ini dan dikenai sangsi lebih dibutuhkannya daripada tetap melaksanakannya dan ditolong menegakkannya. Semua perkara ini telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin, tidak ada khilaf di dalamnya, baik di kalangan imam madzhab empat atau yang lainnya." (Majmu' Fatawa: 1/108-109)

Siapa yang meminta kepada Allah Ta'ala melalui makhluk-Nya atau bersumpah kepadanya dengan nama makhluk-Nya, maka telah berbuat bid'ah yang tidak pernah Allah turunkan keterangan tentangnya.

Beliau berkata lagi, "Islam mengandung makna istislam (tunduk dan patuh) kepada Allah semata. Siapa yang beristislam kepada-Nya dan kepada selain-Nya, berarti telah musyrik. Siapa yang tidak mau tunduk kepada-Nya, berarti sombong dari ibadah kepada-Nya. Dan orang yang sombong dari beribadah kepada Allah adalah kafir. Beristislam kepada Allah semata mengandung makna beribadah dan taat hanya kepada-Nya. Inilah Dienul Islam yang Allah tidak menerima agama selainnya." (Majmu' Fatawa: 3/91)

Beliau berkata lagi, "seseorang bisa menjadi muslim yang lurus dan bertauhid apabila bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah. Dia beribadah hanya kepada Allah semata dengan tidak menyekutukan-Nya dengan salah seorangpun dalam menyembah, mencintai, beribadah, bertaubat, berislam, berdoa, bertawakkal, berloyal, memusuhi karena-Nya, mencintai sesuatu yang dicintai-Nya dan membenci yang dibenci-Nya, serta mensterilkan kebenaran tauhid dari kebatilan syirik. Ini adalah peniadaan yang diikuti dengan penetapan. Meniadakan ibadah kepada selain Allah dan hanya memberikan ibadah kepada Allah semata. Semua ini adalah bentuk realisasi dari kalimat Laa Ilaha Illallaah. Mengosongkan dan meniadakan hatinya dari segala bentuk penuhanan kepada selain Allah. Lalu menetapkan dan menanamkan dalam hatinya penuhanan untuk Allah semata. Sungguh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda dalam sebuah hadits shahih: "Siapa yang mati, sementara dia tahu tiada yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah, pasti dia masuk surga." Dalam hadits lainnya, "siapa yang ucapan terakhirnya adalah Laa Ilaaha Illallaah (tiada yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah) pasti masuk surga." Dan beliau bersabda dalam Ash Sahih: "Talqinlah (tuntunlah) orang yang mau meninggal (untuk mengucapkan) Laa Ilaaha Illallah." Sesungguhnya hal itu adalah hakikat ajaran Islam. Siapa yang mati di atasnya, dia mati sebagai seorang muslim." (Majmu' Fatawa: 8/369)

Imam Al Syaukani rahimahullah berkata, "tidak cukup hanya mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah tanpa mengaplikasikan maknanya lalu ditetapkan sebagai muslim. Sungguh, kalau orang jahiliyah mengucapakannya tapi tetap menyembah patungnya, maka tidak menjadi orang Islam." (Al Durr al Nadlid fi Ikhlasi Kalimah at Tauhid: 40)

"Tidak cukup hanya mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah tanpa mengaplikasikan maknanya lalu ditetapkan sebagai muslim. . . " (Imam Asy Syaukani)

---------------------------------
Pembasmi Ritual Abangan 

Jihady Online Radio

 
Support : Creating Website | Mujahidin | Mujahidin
Copyright © 1434 H / 2013 M. By Ridwan Kariem | Tauhid Media
Template Modified by Creating Website Published by Mujahidin
Proudly powered by Mujahidin