Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
14.31
Berkunjung Ke Sekolah Anak-Anak Daulah Islam Iraq Dan Syam
Written By Anonim on Senin, 07 Oktober 2013 | 14.31
Shoutussalam – Meskipun peperangan masih berkecamuk sengit di Suriah, di beberapa wilayah dan distrik yang telah dikuasai dan dibebaskan Mujahidin, sekolah-sekolah dan institusi pendidikan lainnya kini berhasil membuka tahun ajaran baru. Kegiatan belajar mengajar di atur dan dijalankan oleh kelompok-kelompok Mujahidin, seperti Daulah Islam Iraq dan Syam, Jabhat al Nusrah, juga Ahrar asy Syam al Islamiyyah.
Di Aleppo, Raqqah, sekitar Lattakia dan bahkan di pinggiran ibukota Suriah-Damaskus yang masih dikontrol oleh rezim, sekolah-sekolah yang dikelola Mujahidin bekerja keras untuk memasukkan anak-anak Suriah mendaftar bersekolah.
Setelah dua setengah tahun konflik di Suriah berjalan, kebanyakan gedung-gedung sekolah umum di daerah itu telah hancur. Menurut UNICEF, hampir 40% dari semua siswa antara usia 1 hingga 9 tahun yang berjumlah sekitar dua juta anak terpaksa berhenti bersekolah pada tahun lalu.
Dalam sebuah video yang diunggah di Youtube oleh akun Sham Center, salah seorang komandan Mujahidin bernama Muhammad menceritakan kekagumannya akan dedikasi Mujahidin Jabhat al Nusrah dan Daulah Islam Iraq wa Syam melayani masyarakat dan memberikan pendidikan bagi anak-anak.
“Mujahidin tidak pernah memaksakan anak-anak untuk hadir ke sekolah, pun memaksa para orang tua menyekolahkan anak-anaknya. Tapi mereka tahu betul, bagaimana memenuhi kebutuhan warga, dari makanan, hingga masalah sepelememberikan mainan untuk anak-anak,” katanya.
Di Lattakia, Daulah Islam Iraq dan Syam telah membuka sebuah sekolah di wilayah ‘Ain el Baida. Sekolah itu dijadikan sebagai semacam sekolah percontohan untuk sekolah-sekolah di wilayah lainnya.
Rata-rata tiap kelas berfokus pada pelajaran Tauhid,pun bahasa Arab dan al Qur’an guna memperbaiki anak-anak cara membaca dan melantunkan al Qur’an dengan benar. Anak-anak juga diberi berbagai disiplin ilmu lain, seperti geografi dan matematika.
Para pengajar berasal dari orang-orang setempat. Tak tanggung-tanggung bahkan diantara para pengajar di sekolah Daulah Islam adalah dosen universitas dan ada juga yang profesor. Mereka menerima gaji dengan besar nominal antara 200 hingga 250 dollar AS per bulannya. Sementara, jabatan kepala sekolah diampu oleh mujahid-mujahid pilihan dari Daulah Islam Iraq wa Syam.
Terdapat tiga tingkat pendidikan, sekolah untuk anak usia 6-10 tahun, 11 sampai 15 tahun, dan sekolah remaja lebih dari umur 15 tahun. Di Raqqa, Daulah Islam bahkan sudah mencetak buku-buku pelajaran Sekolah Dasar, dari kelas 1 hingga kelas 6, sebagaimana yang dirilis oleh Raqqa Media Center (RMC).
Untuk menghidupkan suasana belajar mengajar, beberapa waktu sekali diadakan kompetisi sehari membaca al Qur’an di sekolah. Terkadang even kompetisi digelar di hadapan publik masyarakat sebagai laporan umum kemajuan anak-anak didik sekolah Daulah Islam.
Perlu dicatat, sekolah tidak menyediakan pelatihan militer apapun. Meski begitu, kegiatan belajar mengajar tetap tak lepas dari pengajaran membangkitkan ruh dan semangat jihad dalam jiwa anak-anak. [gpt/shoutussalam/ france24/ dbs]
Di Aleppo, Raqqah, sekitar Lattakia dan bahkan di pinggiran ibukota Suriah-Damaskus yang masih dikontrol oleh rezim, sekolah-sekolah yang dikelola Mujahidin bekerja keras untuk memasukkan anak-anak Suriah mendaftar bersekolah.
Setelah dua setengah tahun konflik di Suriah berjalan, kebanyakan gedung-gedung sekolah umum di daerah itu telah hancur. Menurut UNICEF, hampir 40% dari semua siswa antara usia 1 hingga 9 tahun yang berjumlah sekitar dua juta anak terpaksa berhenti bersekolah pada tahun lalu.
Dalam sebuah video yang diunggah di Youtube oleh akun Sham Center, salah seorang komandan Mujahidin bernama Muhammad menceritakan kekagumannya akan dedikasi Mujahidin Jabhat al Nusrah dan Daulah Islam Iraq wa Syam melayani masyarakat dan memberikan pendidikan bagi anak-anak.
“Mujahidin tidak pernah memaksakan anak-anak untuk hadir ke sekolah, pun memaksa para orang tua menyekolahkan anak-anaknya. Tapi mereka tahu betul, bagaimana memenuhi kebutuhan warga, dari makanan, hingga masalah sepelememberikan mainan untuk anak-anak,” katanya.


Murid-murid sekolah dasar Daulah Islam Iraq wa Syam di wilayah Halab, Distrik Aleppo (Foto : HNN)
Siswi-siswi cilik Daulah Islam Iraq dan Syam, dengan task terkenal merk spesial Daulah Islam
Rata-rata tiap kelas berfokus pada pelajaran Tauhid,pun bahasa Arab dan al Qur’an guna memperbaiki anak-anak cara membaca dan melantunkan al Qur’an dengan benar. Anak-anak juga diberi berbagai disiplin ilmu lain, seperti geografi dan matematika.
Para pengajar berasal dari orang-orang setempat. Tak tanggung-tanggung bahkan diantara para pengajar di sekolah Daulah Islam adalah dosen universitas dan ada juga yang profesor. Mereka menerima gaji dengan besar nominal antara 200 hingga 250 dollar AS per bulannya. Sementara, jabatan kepala sekolah diampu oleh mujahid-mujahid pilihan dari Daulah Islam Iraq wa Syam.
Terdapat tiga tingkat pendidikan, sekolah untuk anak usia 6-10 tahun, 11 sampai 15 tahun, dan sekolah remaja lebih dari umur 15 tahun. Di Raqqa, Daulah Islam bahkan sudah mencetak buku-buku pelajaran Sekolah Dasar, dari kelas 1 hingga kelas 6, sebagaimana yang dirilis oleh Raqqa Media Center (RMC).



Buku-buku pelajran SD cetakan Daulah Islam Iraq dan Syam di Raqqa (foto : RMC)
Perlu dicatat, sekolah tidak menyediakan pelatihan militer apapun. Meski begitu, kegiatan belajar mengajar tetap tak lepas dari pengajaran membangkitkan ruh dan semangat jihad dalam jiwa anak-anak. [gpt/shoutussalam/ france24/ dbs]
Label:
Anak-Anak,
Daulah Islam Iraq Dan Syam,
Sekolah
23.01
Sekolah Al-Madinah di Kota Derby, Inggris bagian timur, Rabu, 2 Oktober 2013, ditutup menyusul laporan yang menyebutkan bahwa staf muslim dan non-muslim di sekolah tersebut diwajibkan berjilbab dan menutup aurat.
Wajib Jilbab, Inggris Tutup Sekolah Islam
Written By Anonim on Jumat, 04 Oktober 2013 | 23.01
Sekolah Al-Madinah di Kota Derby, Inggris bagian timur, Rabu, 2 Oktober 2013, ditutup menyusul laporan yang menyebutkan bahwa staf muslim dan non-muslim di sekolah tersebut diwajibkan berjilbab dan menutup aurat.
Penutupan dilakukan oleh satu lembaga bernama Ofsted, yang menginspeksi sekolah-sekolah di Inggris. Sekolah ini ditutup pada Rabu, 2 Oktober 2013. Tidak dinyatakan secara detail apa alasan penutupan sekolah itu oleh Ofsted.
"Bisa kami sampaikan bahwa Ofsted baru-baru ini melalukan inspeksi selama dua hari ke sekolah Al-Madinah di Derby," jelas Ofsted dalam sebuah pernyataan yang dilansir The Guardian.
Sekolah Al-Madinah memiliki 200 murid dan dibuka akhir tahun lalu sebagai bagian dari program sekolah bebas dari pemerintahan Inggris.
Dalam situsnya, sekolah ini menyatakan, "Sekolah ini kami dirikan berdasarkan prinsip dasar Islam yang kami anut. Islam juga memiliki prinsip-prinsip universal yang berlaku bagi kaum muslim maupun bukan."
Oleh karenanya, jelas Al-Madinah di situs, perlu ditekankan terhadap staf perempuan mengenakan pakaian muslim yang menutup aurat kendati mereka non-muslim.
"Seluruh staf harus menunjukkan adab kesopanan dengan cara berpakaian. Bagi staf perempuan, kendati beragama lain, diwajibkan menutupi kepala dan badannya sesuai ajaran Islam."
Sumber: atjehcyber.com
Label:
Inggris,
Jilbab,
Muslim Affairs,
Muslimah,
Sekolah






