Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Suriah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suriah. Tampilkan semua postingan

Mujahidin Suriah Mulai Mendobrak Kepungan Tentara Rezim Di Homs, Mohon Do’anya!

Written By Anonim on Selasa, 22 Oktober 2013 | 21.34


millahibrahim-news.com
Mujahidin ISIS (Islamic State of Iraw and Sham)
Operasi gabungan Mujahidin Suriah yang terdiri dari Jabhat al Nusrah, Ahrar Syam, dan Daulah Islam Iraq wa Syam berhasil membebaskan kota Sukhna yang berada di timur Provinsi Homs, Suriah. Dan kini mulai bergerak merangsek masuk menuju provinsi yang telah dikepung oleh tentara Rezim Assad selama lebih dari 500 hari itu. Pertempuran dahsyat pun kini sedang terjadi amat sengit di pinggiran kota, sebagaimana yang dikabarkan oleh Ummah Today (22/10/2013).
Pasukan rezim Nushairiyah Suriah, Garda Revolusi Iran, milisi Syi’ah Shabihah, milisi Syi’ah Hizbullah Lebanon dan milisi Syi’ah Mahdi Iraq telah mengepung Homs hingga lebih dari 500 hari lamanya.
Hingga berakibat fatal pada krisis makanan yang amat parah disana. Para ulama’ bahkan sampai mengeluarkan fatwa bolehnya kaum muslimin di provinsi itu untuk memakan daging kucing oleh karena ketiadaan persediaan makanan.
Di Kota Homs yang terkepung tersebut, kematian tidaklah begitu ditakuti. Justru yang paling mengerikan jika mendapat luka parah. Sebab peralatan dan perlengkapan medis hampir mustahil untuk ditemukan. Hanya ada sedikit ambulans dan tandu, sehingga modus transportasi lebih banyak mengandalkan gerobak kecil yang sebelumnya digunakan untuk menjual makanan, sebagaimana yang dilaporkan oleh Syria Deeply (26/9/2013).
Tenaga medis pun hanya ada sedikit orang. Pernah dikabarkan bahwa pasien sering menunggu berjam-jam hanya agar bisa bertemu dengan dokter, beberapa diantaranya mati dalam keadaan menunggu.
Kebanyakan dokter di Homs melarikan diri di awal meletusnya pertempuran karena takut ditangkap oleh tentara rezim Syi’ah akibat memberikan pengobatan pada warga sipil dan Mujahidin. Sementara beberapa dokter lainnya tewas saat tempat kerjanya dihujani bom oleh tentara Bashar Assad.
Rumah sakit pusat hampir-hampir tidak bisa berfungsi karena banyak bangunan yang telah hancur. Dan para dokter yang masih hidup harus bekerja di rumah sakit bawah tanah yang sempit dan pengap.
Kini pertempuran sengit sedang berkecamuk di pinggiran Homs. Dalam sebuah laporan terakhir sore hari ini, Mujahidin Jabhat al Nusrah berhasil menguasai beberapa area, stasiun bahan bakar, rumah sakit nasional dan merampas beberapa senjata-senjata berat dari musuh.
Mari kita do’akan, agar Mujahidin segera memasuki Homs, mengusir tentara-tentara Syi’ah terlaknat dan mengakhiri penderitaan kaum muslimin disana!
(Shoutussalam)

Der Spiegel: Ada Kamp Khusus untuk Mujahidin Asal Jerman di Suriah


DER Spiegel, media asal Jerman, mengatakan para pejuang mujahidin dari Jerman telah berkumpul di Suriah dengan membentuk “Kamp Jerman”. Mereka melawan pemerintah Damaskus pimpinan presiden Bashar Al-Assad.

Der Spiegel menurunkan laporan ini Senin kemarin (21/10/2103), dan menyatakan jumlah mujahidin asal Jerman mencapai sekitar 200.

Sumber-sumber intelijen mengatakan jumlah mujahidin Jerman yang berangkat ke Suriah terus meningkat. Kamp Jerman juga disebut-sebut sebagai tempat pengumpulan dan pusat pelatihan bagi pejuang yang khusus berbahasa Jerman.

Mayoritas para pejuang itu merupakan anak-anak muda yang berasal dari negara bagian Rhine-Westphalia, Jerman sebelah utara.

Pihak berwenang Jerman memperkirakan bahwa sekitar 1.000 mujahidin dari seluruh Eropa saat ini sedang berjuang di Suriah – meningkat jauh dibandingkan dengan hanya 250 pada akhir 2012 lalu.

Pejabat Eropa telah memperingatkan bahwa masuknya warga Eropa ke Suriah bisa meningkatkan ancaman serangan teroris di masa depan di Eropa. Menurut catatan mereka, sekitar selusin mujahidin telah kembali ke Jerman dan dianggap akan menimbulkan “ancaman tertentu.”

Mujahidin dari negara-negara barat termasuk Amerika Serikat, Kanada, Prancis, dan Inggris saat ini banyak yang sedang berperang di Suriah bersama dengan mujahidin dari negara lain.

Sumber: islampos

Hubungan Rahasia As-Israel dan Suriah-Iran

  • Iran, mulutnya mengutuk Israel-AS, tapi prakteknya berkomplot.
  • Persekongkolan ataupun perselingkuhan yang sama, juga dilakukan rezim Assad di Suriah sejak sejarah berdirinya Suriah hingga kini.
  • CIA dan Suriah juga melakukan kerjasama intelejen untuk melakukan penyiksaan atas para tersangka terorisme sejak tahun 2001. Hubungan antara CIA dan rezim Assad sebenarnya sangat mesra, bahkan saat Suriah disebut negara bengis sekali pun. Rezim Assad memberikan tawaran bantuan untuk melakukan pekerjaan kotor dengan CIA. Rezim Assad ini menggunakan agen intelejennya untuk mengorek informasi dari para tahanan perang melalui cara-cara penyiksaan untuk kemudian memberikan informasi tersebut pada CIA. Kasus yang paling terkenal dan menjadi berita internasional adalah kasus yang terjadi atas Maher Arar, warga Kanada yang dituduh dan disiksa dalam penjara Suriah atas pesanan AS namun ternyata tidak terbukti.
  • Kasus terakhir adalah dukungan AS atas rezim Assad selama revolusi Suriah ini. AS terus diam dan sekadar menyaksikan atas pembantaian yang setiap hari dilakukan Assad atas rakyat Suriah selama dua tahun ini.
Presiden Amerika, Nixon berjabat tangan dengan Presiden Suriah, Hafez Assad (Bapak Basyar Asad) pada tahun 1974

Konflik di Suriah memunculkan kabut syubhat yang cukup tebal di sebagian kalangan. Dan kabut syubhat itu semakin bertambah tebal dengan cara pandang simplisistis yang mereka gunakan. Mereka menganggap bahwa konflik tersebut adalah permainan AS untuk menggulingkan rezim Assad, yang menurut mereka merupakan simbol perlawanan melawan hegemoni Barat—bersama dengan Iran. Propaganda inilah yang juga digunakan oleh Assad untuk mengaburkan pandangan kalangan umat Islam dunia —sebagaimana nasihat para pejabat Iran kepada Assad terkait dengan revolusi di Suriah akhir-akhir ini—.
Bagi mereka, posisi melawan Israel dan AS cukup untuk menjadi modal meraih simpati umat Islam. Sebuah pilihan yang menurut Trita Parsi—seorang warga AS asal Iran yang menjabat sebagai presiden National Iranian American Council—dalam bukunya Treacherous Alliance: The Secret Dealings of Israel, Iran, and the United States hanyalah sekadar retorika belaka.
Retorika kutukan atas Israel adalah salah satu trik lama yang dipakai Iran. Pendekatan tersebut akan bergema senada dengan rakyat Arab pada umumnya dan menguak impotensi rezim Arab pro-Amerika. Yang akhirnya akan membuat rezim-rezim tersebut tertekan dan dipermalukan.
Jika AS dan Israel menyerang Iran—yang mendukung kemerdekaan Palestina—akan sangat tidak mungkin bagi para pemimpin Arab—yang sebagian besar membenci Iran—untuk secara publik menentang Iran, karena sikap tersebut akan membuat mereka nampak berada di sisi Israel. Sebuah sikap yang akan sangat membahayakan posisi mereka di hadapan rakyat Arab. Ini adalah trik lama ala Iran yang Israel sudah familiar dengannya.
Menurut istilah Trita Parsi, radikal adalah retorika Khomeini, tapi praktikal adalah kebijakannya. Iran lebih pragmatis dan rumit dari yang kita bayangkan. Jika mereka melihat resiko, mereka akan berhenti dalam periode waktu tertentu.Dibalik retorika kutukan dan kecaman tersebut, sebenarnya telah terjalin kerjasama yang cukup erat antara AS-Israel-Iran. Mulai dari pelatihan intelejen, perdagangan senjata, kerjasama perdagangan, dll.
Kerjasama tersebut juga terjadi dengan Suriah di bawah kepemimpinan rezim Assad. Sejarah menunjukkan hubungan dan perselingkuhan mereka ternyata sudah sekian kali terjadi sejak sejarah berdirinya Suriah hingga sekarang.
Melalui kedubesnya di Damaskus, Amerika Serikat dan badan intelijen AS (CIA), telah memimpin dalam upaya kudeta militer pertama kalinya di Suriah pada tahun 1949, sebagaimana diyatakan dalam sebuah buku “The Game of Nations”  karya Miles Copeland. Hal ini menandai awal dari peperangan internasional memperebutkan Timur Tengah antara AS sebagai pendatang baru di kancah pertarungan dunia, dan Eropa (Perancis dan Inggris) yang sebelumnya menguasai pengaruh di kawasan tersebut. Amerika Serikat melalui CIA terus menerus mendukung upaya kudeta militer yg susul menyusul di Suriah dari tahun 1950an hingga 1960an melawan pesaingnya dari negara-negara eropa, hal ini membawa ketidakstabilan yang berlangsung selama lebih dari dua dekade.
Tahun 1967, Hafez Assad menarik diri dari perang untuk mengamankan Israel. Mantan presiden Suriah, Amin Al-Hafez, dalam interview pada tahun 2001 mengatakan bahwa Hafez Assad, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan, memberikan perintah tegas kepada pasukan Suriah untuk menarik diri dari Dataran Tinggi Golan pada awal perang. Hal ini dilakukan sebelum ada tanda-tanda kekalahan dan bahkan saat belum ada konfrontasi sedikit pun dengan militer Israel. Hasilnya, wilayah strategis tersebut berhasil ditaklukkan oleh Israel. Momen ini menjadi titik balik yang membuat Assad memperoleh kepercayaan dari AS dalam mengamankan perbatasan utara Israel, sebuah prestasi di mata Israel yang berhasil dilakukannya dalam tiga dekade berikutnya.
Tahun 1967, AS memberikan dukungan kepada Suriah melalui resolusi PBB no. 242. Resolusi ini dikeluarkan pasca perang Arab-Israel tahun 1967, dimana Israel pada saat itu berhasil menguasai Dataran Tinggi Golan. Dengan dikeluarkannya resolusi tersebut, Dataran Tinggi Golan dikembalikan lagi ke pangkuan Suriah. Amerika mendukung resolusi ini. Hal ini nampak bertentangan dengan posisi Israel, meski hanya sekadar lip service, yang menolak segala gagasan penyerahan wilayah strategis tersebut.
Pasca perang “dadakan” pada tahun 1973 antara Suriah dengan Israel, biasanya AS akan mengecam “lawan” Israel saat itu, yaitu Suriah, dan  memberikan sanksi pada mereka. Namun yang terjadi malah sebaliknya, pada tahun 1974 Presiden Nixon secara personal justru melakukan kunjungan ke Damaskus untuk menguatkan hubungan dengan rezim Assad.
Tidak hanya itu, sejak tahun 1976 AS menyetujui langkah Assad untuk melakukan okupasi atas Lebanon. Pasukan Suriah menginvasi Lebanon pada awal-awal perang. Diamnya AS atas operasi tersebut menjadi “lampu hijau” bagi Hafez Assad untuk memulai dan terus melanjutkan invasi ini sampai tahun 2005, saat resolusi yang diperintahkan Prancis memaksa Suriah keluar dari Lebanon. Resolusi ini pada hakikatnya ditolak oleh AS. Salah seorang analis menjelaskan peran AS ini dengan mengatakan bahwa “AS nampaknya secara diam-diam setuju atas keberlangsungan pendudukan Suriah di Lebanon.”
Tahun 1989 AS dan Suriah melakukan kesepakatan perjanjian Tha’if. Perjanjian Tha’if ditandatangani di Arab Saudi antara berbagai faksi di Lebanon untuk mengakhiri perang sipil. AS bersama dengan Prancis, Arab Saudi, Mesir dan Suriah menjadi kekuatan yang membantu menyusun perjanjian tersebut. Perjanjian tersebut menegaskan dukungan internasional kepada Suriah untuk “mengawal” kasus Lebanon.
Tahun 1991 Suriah bergabung bersama AS untuk melakukan invasi ke Irak dalam operasi Badai Gurun dengan mengirimkan 14.500 pasukan dan personil untuk membantu AS dalam invasi tersebut.
Pada tahun 1990-an AS menjadi mediator dalam negosiasi antara Suriah dan Israel. Hafez Assad setuju jika AS menjadi mediator. Kepala Staf Militer Suriah,Letjen Hikmat al-Shihabi, memimpin delegasi ke AS dengan agenda mendiskusikan negosiasi damai atas permasalahan tersebut. Dalam salah satu wawancara dengan saluran televisi Rusia, Rusia Today TV, seorang mantan Menteri Pertahanan Suriah dan salah seorang pendukung utama rezim Assad, Mustafa Tlas, mengatakan dengan berani bahwa al-Shihabi adalah seorang agen CIA.
Selain itu, CIA dan Suriah juga melakukan kerjasama intelejen untuk melakukan penyiksaan atas para tersangka terorisme sejak tahun 2001. Hubungan antara CIA dan rezim Assad sebenarnya sangat mesra, bahkan saat Suriah disebut negara bengis sekali pun. Rezim Assad memberikan tawaran bantuan untuk melakukan pekerjaan kotor dengan CIA. Rezim Assad ini menggunakan agen intelejennya untuk mengorek informasi dari para tahanan perang melalui cara-cara penyiksaan untuk kemudian memberikan informasi tersebut pada CIA. Kasus yang paling terkenal dan menjadi berita internasional adalah kasus yang terjadi atas Maher Arar, warga Kanada yang dituduh dan disiksa dalam penjara Suriah atas pesanan AS namun ternyata tidak terbukti.
Kasus terakhir adalah dukungan AS atas rezim Assad selama revolusi Suriah ini. AS terus diam dan sekadar menyaksikan atas pembantaian yang setiap hari dilakukan Assad atas rakyat Suriah selama dua tahun ini. AS juga menolak untuk memberikan bantuan persenjataan pada kelompok perlawanan untuk melindungi diri mereka dan menggulingkan Assad.
Nampak terlihat dengan jelas, Amerika Serikat telah berupaya sejak awal berdirinya negara suriah modern untuk “memasang” antek-anteknya dalam kekuasaan melalui kudeta militer. Meskipun AS terus berdalih melalui retorika publik melawan Suriah, AS telah mencapai puncak hegemoninya secara sempurna ketika Hafez Assad , mengambil alih kekuasaan pada tahun 1970. Sejak naiknya Assad, Suriah menjadi negara yang dipergunakan untuk operasi sembunyi-sembunyi bagi AS, termasuk melayani kepentingan AS di kawasan tersebut dan melindungi batas-batas utara entitas Israel, meskipun kelihatannya negara ini mengklaim sebagai pemimpin perlawanan terhadap Israel di kawasan Arab.
Satu hal yang menarik, selama ini ternyata Israel hanya diam seribu bahasa soal Suriah. Bagi sebagian pihak mungkin hal ini aneh, namun kita akan paham jika melihat pandangan Israel tentang Suriah. Meski pun retorika dan bahasa diplomasi seolah menunjukkan permusuhan di antara mereka, namun itu hanya bahasa di publik. Bagi Israel, Suriah adalah tetangga yang dapat diandalkan dan mudah diprediksi.
Selain pertempuran dan ledakan kekerasan skala kecil, Assad masih tetap menghargai perbatasan dengan Israel, yang berarti Dataran Tinggi Golan yang mempunyai nilai strategis secara ekonomi yang direbut secara ilegal oleh Israel pada tahun 1967, tetap tak bergerak. Bahkan pada tahun 2009 yang lalu, Assad menawarkan negosiasi “tanpa syarat” kepada Israel mengenai Dataran Tinggi Golan.
Selain itu, kapasitas Assad sudah diketahui oleh Israel. Meskipun mempunyai hubungan yang erat dengan Iran, Israel tidak terlalu tertarik dengan Suriah pasca Assad. Mereka tidak mau mengambil resiko perubahan yang berdampak pada perbatasan yang tak terkendalikan, kelompok militan yang tak terhitung jumlahnya, aliran keluar masuk senjata yang deras, meningkatnya pengaruh kelompok Islam, dan pemerintahan yang lemah dan korup yang tidak mampu mengamankan negeri. Karenanya, bagi Isral, “anti-imperialis” Assad masih cukup bagus untuk dipelihara.
“Saya memilih ekstrimisme politik Assad dibanding ekstrimis agama (Islam),” kata Ayoub Kara, anggota parlemen Israel dari Partai Likud. “Kami tidak menginginkan ekstrimis agama (Islam) di perbatasan.”
Kesimpulan ini semakin dipertegas dengan pernyataan Ariel Sharon saat ia masih menjabat sebagai Perdana Menteri Israel. Ia mengecam usulan salah seorang warga Israel untuk menggulingkan Assad. “Apakah kamu gila?”, kata Sharon waktu itu.”Hal terbaik saat ini adalah membiarkan Bashar Assad berjuang mempertahankan kekuasaannya.”* (Mustarom/peneliti SYAMINA)

*Diadaptasi dari majalah An-Najaha, edisi khusus Bara Suriah (Edisi Khusus Suriah)
An-najah.net, Publikasi: Kamis, 5 Zulhijjah 1434 H / 10 Oktober 2013 12:42
 ***

Surat Rahasia dari Penjara Saudi (2): Mengacak-acak Jihad Suriah

Written By Anonim on Minggu, 13 Oktober 2013 | 12.54


Kisah ini berawal dari penjara Hayir, dengan pengawasan para Syaikh dari sekte Jaamiyyah (Salafi Maz'um pengikut Aman al Jaamiy yang sangat loyal terhadap Thoghut Saudi, pent).

Awal kisah, salah seorang ikhwan di penjara Hayir melihat mimpi yang tafsirnya adalah masuknya intel dari Universitas Islam al Imam Muhammad Ibnu Su'ud ke dalam kamar penjara mereka!! Dan selang beberapa hari dari mimpi itu masuklah ke tengah mereka seorang pria yang berpenampilan istiqamah.

Saat para tahanan menanyakan kepadanya tentang sebab dia masuk penjara; maka dia tengadahkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia "berjihad di Suriah bersama Jabhah Nushrah". Sayangnya saat itu para ikhwan tidak teringat kepada mimpi masukknya intel ke tengah-tengah mereka, maka merekapun menanyakan kepadanya prihal keadaan kaum muslimin di sana dan tentang kejahatan-kejahatan Thaghut Basyar.

Maka si jasus ini duduk di depan majlis dan terus ia menceritakan tentang amir fulan, komandan fulan, brigade-brigade dan penyerangan-penyerangan, terus dia minta izin dari mereka untuk ke WC dulu. Salah seorang ikhwan tersadar dan teringat akan mimpi temannya dan ia berkata, "Wahai ikhwan apa kalian tidak teringat mimpi itu?"

Maka mereka menjawab, "Ya, kita ingat, namun kita mengira dia itu jujur."

Sang ikhwan berkata lagi menimpali, "Siapa tahu?!"

Amir kamar lantas menanggapi, "Ya, serahkan masalahnya kepadaku."

Si jasus pun datang ke tengah mereka, mereka berkata kepadanya, "Berterus teranglah dari sekarang kepada kami dan kami berikan kamu kesempatan berbicara dengan tenang... Tapi cepat akuilah siapa saja yang datang bersamamu dari Universitas Al Imam?"

Si jasus itu wajahnya menjadi merah terus pucat, di mana dia berubah dan bangkit, dan berkata, "Wahai kawan Universitas apa yang kalian bicarakan tentangnya?"

Maka amir kamar berkata, "Kami sudah mengetahui siapa kamu sebenarnya, tapi mengakulah, itu lebih baik bagimu, dan kalau tidak maka demi Allah seandainya kami menyembelihmu tentu tidak akan ada seorangpun yang membelamu dan kami tidak akan rugi apapun."

Dan setelah ancaman dan gertakan, maka si jasus itu menjelaskan pengakuan yang berbahaya. Bahwa ia adalah seorang mahasiswa di Universitas Al Imam di Riyadh dan bekerja di bawah perintah Syaikh sekte Jaamiyyah Abdul Aziz Arris. Ia lalu menjelaskan bahwa di sana ada sejumlah pemuda yang pakaiannya setengah betis, memakai peci hitam dan kamera yang tugasnya adalah masuk ke tengah para pemuda.

Adapun di situ, di penjara Hayir, terdapat beberapa orang yang tugasnya menulis laporan, dan Syaikh mereka Abdul Aziz Arris mengatakan kepada mereka, "Kami tidak ingin laporan seputar takfir, namun kami ingin data-data yang lengkap!!"

Tugas mereka yang lain adalah tinggal di penjara selama kurang lebih 7 bulan untuk berbaur dengan sebagian mujahidin yang ditahan di sana, juga mengambil rekomendasi dan terus keluar menuju Suriah untuk jihad. Untuk menulis laporan dan memata-matai mujahidin serta bekerja bersama shahwah-shahwah Islamiyyah yang mengaku Islam dimana nantinya akan memerangi mujahidin setelah jatuhnya Basyar. Selesai.

Perlu diketahui, Syaikh sekte Jaamiyyah Abdul Azizi Arris itu sekarang bekerja bersama Jabhah al Ashalah wat Tanmiyah di Suriah, dan mendanai jihad dengan bantuan keuangan dari pemerintah Saudi. Jabhah ini berasal dari kalangan Murjiah (Salafi Maz'um) di mana mereka memerangi jihad dan mujahidin. Bahkan mereka berlepas diri dari nama jihad, sampai-sampai nama Jabhah mereka itu sama sekali tidak mengandung sesuatu yang menunjukan terhadap Jihad maupun 'izzah.

Jabhah al Ashalah wat Tanmiyah ini memiliki persenjataan yang paling kuat dan ikut serta dalam menyerang kekuatan-kekuatan kecil tentara Suriah, dan ia memiliki macam kamera-kamera tercanggih pun sekaligus para pembuat film-filmnya.

Orang yang mengenal Jabhah al Ashalah wat Tanmiyah di Suriah akan mengetahui bahwa ia akan menjadi markaz pergerakan yang akan memerangi mujahidin setelah jatuhnya Basyar. Mereka hanya menunggu isyarat Amerika atau isyarat Ibnu Nayef.

Dan di sisi lain, di sana ada ada kelompok jihad yang ghuluw yang mengkafirkan semua manusia, yaitu Jundul Khilafah Bi Ardlisy Syaam, di mana mereka itu mengkafirkan manusia bahkan semua mujahidin-pun dikafirkan!! Kelompok ini juga didanani untuk mencoreng nama baik jihad.

Alih bahasa: Abu Sulaiman Al-Arkhabiliy

[skwd]
Sumber: Shoutussalam

Pejabat AS: Tiap Bulan 100 Hingga 500 Mujahidin Asing Dari Seluruh Dunia Tiba di Suriah

Written By Anonim on Kamis, 10 Oktober 2013 | 16.32


AMERIKA SERIKAT - Para pejabat AS mengatakan 100 sampai 500 mujahidin asing tiba di Suriah setiap bulan untuk bergabung dengan pejuang oposisi dari faksi-faksi mujahidin Islam. Mereka datang dari seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Australia, Perancis, Inggris dan Belanda, serta negara-negara di Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia.

Para pejabat AS yang berbicara dalam kondisi anomitas karena membahas masalah intelijen tersebut mengatakan bahwa Suriah saat ini telah menjadi titik fokus global untuk pejuang Islam yang ingin mengobarkan perang suci (Jihad-Red), jauh melebihi Afghanistan, Pakistan dan Yaman.

Mereka mengatakan bahwa saat ini para pejabat intelijen AS semakin khawatir bahwa Al-Qaidah dan kelompok-kelompok pejuang Islam lain bisa mengukir surga di Suriah yang akan menawarkan jenis perlindungan yang pernah mereka nikmati di barat laut Pakistan.

Tujuan utama dari para mujahidin asing tersebut adalah dua kelompok afiliasi Al-Qaidah, Jabhat Al-Nusrah dan Negara Islam Irak dan Suriah sementara satu lagi adalah brigade kuat pejuang Islam yang memiliki pandangan sama dengan keduanya, Ahrar Al-Shaam.

Kelompok Jabhat Al-Nusrah hanya memiliki beberapa ribu mujahidin, tetapi koalisi kedua dari unit-unit Islam, Ahrar Al-Sham, telah menerjunkan brigade dengan sekitar 10.000 pejuang yang "sangat bersimpati kepada pandangan dunia Al-Qaidah," pejabat kedua AS mengatakan. 

Para Analis mengatakan bahwa pendiri kelompok Ahrar Al-Sham adalah tahanan politik Suriah yang berasal kelompok Islam yang telah ditahan selama bertahun-tahun tapi dibebaskan oleh pemerintah Bashar Al-Assad sebagai bagian dari amnesti tahun 2011.

Kelompok yang paling keras, Negara Islam Irak dan Suriah, kecil dan tidak populer, para pejabat AS mengatakan.

Semua mengatakan, Al-Qaidah dan sekutu-sekutu ideologisnya membuat jumlah sekitar 35 persen dari gerakan pejuang oposisi Suriah, kata seorang pejabat intelijen AS. Pihak oposisi yang memerangi rezim Bashar Al-Assad diyakini mencakup sekitar 100.000 pejuang dalam semua kesatuan baik yang berpandangan sekuler maupun Islami. (an/stripes/voa-islam)

Mantan Perwira Militer Saudi Anggota Jabhat Al-Nusrah Gugur di Aleppo Suriah


DAMASUKUS, SURIAH (Islam Newsupdate) - Seorang mantan perwira militer Arab Saudi yang bertempur bersama kelompok pejuang Islam afiliasi Al-Qaidah di Suriah, gugur Syahid (Insyallah) selama operasi di dekat Aleppo, laporan-laporan mencatat.

Menurut sumber-sumber resmi, perwira Saudi Saif Jamaan Al-Maliki merupakan anggota salah satu cabang Al-Qaidah di Suriah, Jabhat Al-Nusrah, salah satu kelompok pejuang paling efektif dalam memerangi tentara rezim Bashar Al-Assad. Dia beritakan gugur pada September lalu.

Sebelum pergi berjihad ke Suriah dan bergabung dengan Jabhat Al-Nusrah, Saif jaman Al-Maliki bertugas di Angkatan Darat Arab Saudi di pangkalan udara di kota barat Yida.

Berita-berita yang diterbitkan oleh pers internasional mengungkapkan kehadiran dari para mantan tentara Saudi dalam kelompok-kelompok pejuang Islam bersenjata seperti Jabhat Al-Nusrah dan Negara Islam Irak dan Suriah. (an/pl/voa-islam)

Amir Salafi Jihadi Denmark, Dikabarkan Telah Syahid di Suriah

Written By Anonim on Sabtu, 05 Oktober 2013 | 14.11


SURIAH – Sebuah laporan dari Copenhagen Post, Jumat (4/10/2013). mengemukakan tentang penulisan surat baru yang diluncurkan oleh Salafi Jihadi Denmark untuk kaum Muslimin di penjara Denmark. Copenghagen Post mencatat bahwa hal itu bertepatan dengan kesyahidan (insyaaAllah) dari pemimpin Salafi Jihadi Denmark Shiraz TariqRahimahullah di Suriah. Tariq, juga dikenal kunyah Abu Musa, beliau adalah amir Kaldet til Islam (Seruan Islam), kelompok yang aktif berdakwah.

Laporan kesyahidan Abu Musa mengemuka setelah video kesyahidan tentang beliau muncul selama seminggu terakhir. Sebuah postingan di situs berbagi video, LiveLeak mengatakan bahwa Abu Musa telah syahid (insyaaAllah) di provinsi Latakia Suriah pada pagi hari tanggal 25 September, dan juga dikatakan bahwa keberadaan dan kondisi muridnya Abu Khattab belum diketahui. Abu Khattab juga merupakan anggota Kaldet til Islam.

Pada tanggal 15 Agustus, Abu Khattab menjadi fitur dalam video jihad Suriah berbahasa Denmark pertama yang diposting di Internet, menurut Copenhagen Post. Dalam video tersebut, ia menghimbau agar Muslim Denmark berhijrah ke Suriah untuk berjihad, beliau menyebutnya sebagai kewajiban yang dilupakan. Abu Khattab dikenal di kalangan Salafi Jihadi di Denmark.

Video yang baru-baru ini dirilis untuk menghormati kesyahidan (insyaaAllah) Abu Musa mengatakan bahwa ia syahid (insyaaAllah) saat berjihad di jajaran Jaish Muhajirin wa Ansar, yang terdiri dari lebih dari 2.000 mujahidin asing dan ribuan mujahidin asal Suriah. Jaish Muhajirin wa Ansar terkait dengan Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS), salah satu dari dua afiliasi resmi Al Qaeda yang beroperasi di Suriah.

Menurut video yang diposting LiveLeak, Abu Musa dikatakan telah berada di Suriah selama beberapa waktu, bersama dengan beberapa mujahidin Denmark lainnya, dimana pada waktu itu beliau menjabat sebagai amir. Sebuah artikel bertanggal 30 Agustus di koran Politiken Denmark menjuluki Abu Musa sebagai “laba-laba” dalam lingkungan Salafi Jihadi Denmark, karena kepiawaiannya mengorganisasi dakwah dan jihad di Denmark.

Thagut Denmark telah memperkirakan bahwa 65 warga Denmark telah pergi berjihad ke Suriah, namun jumlah sebenarnya mungkin lebih tinggi. Pihak thagut yakin bahwa sejauh ini enam mujahid Denmark telah syahid (insyaaAllah) di Suriah. Pada bulan Mei, forum jihad merilis sebuah video mengumumkan kesyahidan (insyaaAllah) mujahid asal Denmark Kenneth Sørensen rahimahullah, yang telah berjihad di jajaran Brigade Muhajirin (sekarang, Jaish Muhajirin wa Ansar).

sumber : Al-Mustaqbal Channel

Syiah Hizbullah Lebanon Tarik Beberapa Pejuangnya dari Suriah


KELOMPOK perlawanan Syiah Lebanon Hizbullah telah mulai menarik beberapa pejuangnya yang berperang bersama pasukan Presiden Bashar al-Assad melawan pasukan oposisi Suriah setelah adanya tekanan dari pemerintah di Beirut, menurut sebuah laporan media.

Mengutip diplomatik dan sumber-sumber intelijen, surat kabar The Timesmelaporkan bahwa Hizbullah telah mulai mengurangi kehadiran mereka di Suriah, menyerah pada tekanan dari pemerintah.

Hizbullah, yang memiliki lebih dari 10.000 pejuang di Suriah, hanya memiliki “beberapa ribu” yang tersisa di Suriah, negara yang dilanda perang sipil, menurut The Times.

Namun sumber yang dekat dengan Hizbullah mengatakan alasan sebenarnya di balik penarikan pasukan lebih bersifat taktis dan bukan karena tekanan politik apapun.

Para pejabat Lebanon telah menyatakan keprihatinan mereka atas keterlibatan Syiah Hizbullah di Suriah, yang dianggap mengganggu hubungan diplomatik negara itu dengan negara-negara Arab lainnya serta menghasut kekerasan sektarian di dalam negeri.

Konflik di Suriah telah memperburuk ketegangan sektarian di Lebanon.

Kelompok garis keras Sunni di Lebanon, berpihak pada pejuang Suriah anti Assad yang sebagian besar Sunni, memperingatkan Hizbullah atas keterlibatan mereka di negara tetangga.

Bulan lalu Lebanon mengadakan pertemuan keamanan setelah bentrokan antara pejuang Syiah Hizbullah dan anggota kelompok Sunni negara itu. Bentrokan menewaskan lima orang di kota timur Baalbek.

[gpt/fq/islampos/alarabiya]

Jihady Online Radio

 
Support : Creating Website | Mujahidin | Mujahidin
Copyright © 1434 H / 2013 M. By Ridwan Kariem | Tauhid Media
Template Modified by Creating Website Published by Mujahidin
Proudly powered by Mujahidin