Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
17.28
Fenomena “Tobat” dari Jalan Jihad
Written By Anonim on Kamis, 03 Oktober 2013 | 17.28
Berbalik dari keyakinan atau dikenal dengan istilah tarooju’, ternyata telah ada sejak masa Rasulullah saw. Ketika beliau masih hidup dan Al-Qur’an masih turun, fenomena tarooju’ sudah ada. Rajal bin Unfuwah, misalnya. Ia tak hanya keluar dari Islam, tetapi menguatkan kenabian palsu Musailamah al-kadzdzaab.
Para shahabat menganggap fitnah Rajal lebih besar daripada Musailamah, sebab nabi palsu tersebut tidak pernah bertemu dengan Rasulullah dan sebelumnya dikenal sebagai tukang sihir. Kesesatannya lebih nyata sejak awal. Berbeda dengan Rajal, dia pernah bertemu dan menggali ilmu kepada Nabi, sehingga ketika dia menguatkan Musailamah fitnahnya lebih besar.
Tarooju’ secara bahasa maknanya mengaku salah, mundur dari kancah, mencabut pernyataan, menyesal dan menyatakan kembali. Dalam kancah jihad, tarooju’ merupakan perkara yang sering terjadi, baik pada tingkat individu maupun kolektif.
Mereka yang menyatakan tarooju berarti mengakui bahwa prinsip yang dipeganginya dalam berkonfrontasi dengan para thoghut itu salah. Mereka kemudian mundur dan meninggalkan medan yang sebelumnya mereka jaga dan bela. Mereka menyesal dan mencabut permusuhan. Mereka kembali kepada posisi sebagai ‘muslim’ yang moderat, insklusif dan tidak lagi memerangi kekafiran.
Persepsi Barat dan Program Penjinakan Aktivis Islam
Angel Rabasa dkk. dari RAND Corporation dalam bukunya Deradicalizing Islamist Extremists mengklasifikasi model tarooju’ bagi para aktivis Islam yang mereka inginkan. Dan hal itu direkomendasikan untuk diluncurkan dalam bentuk program. Ada dua klasifikasi besar, yakni deradicalization dan disengagement.
Pertama adalah keadaan dimana unsur gerakan Islam jihadis yang semula aktif berjihad memerangi AS dan sekutu baratnya, berbalik meletakkan senjata. Mereka menganggap bahwa memerangi barat adalah tindakan yang salah. Yang benar adalah bersahabat dengan barat dan menerima dominasinya atas dunia Islam. Penempatan 1.500.000 personel tentara AS dari ujung barat Afrika hingga ujung timur Mindanao, dianggap sebagai kenyataan yang harus diterima apa adanya.
Kedua adalah keadaan dimana unsur jihadis yang semula aktif memerangi AS dan sekutu baratnya, mau menerima kenyataan dominasi barat. Ia meletakkan senjatanya, hidup ‘normal’, tidak mau melakukan perlawanan bersenjata. Perbedaannya dengan yang pertama, ia masih meyakini bahwa jalan untuk membela dan memenangkan Islam adalah dengan jihad fie sabiilillah.
Dari dua klasifikasi besar tersebut, ada kondisi pelaku yang dapat ‘dinaikkan’ statusnya dari berhenti, menarik diri dan menyesal, meningkat menjadi sekutu kolaborasi. Wujudnya ialah membantu musuh Islam ‘menyadarkan’ teman-temannya yang masih aktif mendukung gerakan Islam. Tentu tidak gratis. Semua itu dengan berbagai iming-iming fasilitas, mulai dari jaminan keamanan dari mereka (bukan jaminan dari siksa Allah), kesejahteraan hidup, biaya operasional hingga modal usaha.
Musuh juga tahu bahwa sebagian jihadis mau menerima bantuan tetapi tidak mau diajak bekerjasama. Mereka menerapkan prinsip gradasi perlakuan terhadap musuh dengan baik.
Program deradikalisasi yang direkomendasikan para pemikir lembaga penelitian Dephan AS itu, yang kemudian diadopsi oleh pemerintah negara-negara yang tergabung dalam koalisi memerangi teroris (baca Islam) termasuk BNPT, adalah bagian dari uslub peperangan. Para mujahid tidak boleh rabun dan teledor, apalagi tergiur dengan kucuran proyek ekonomi yang terus ditebar.
Bukankah Allah telah berfirman :
“Dan janganlah kamu jual perjanjian (dengan) Allah dengan harga murah, karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl 95-96).
Tabiat Jalan Islam
Jalan penegakan agama Allah dengan jihad bukan hamparan permadani yang terbentang, sebaliknya justru tebaran onak dan duri, serakan tulang-belulang dan tengkorak, ceceran darah dan luka, menanjak menuju puncak ketinggian amal. Barang siapa yang memiliki persepsi penegakan agama adalah hamparan karpet merah dan percikan parfum serta nyamannya istirahat, maka pemahaman itu akan mengecohnya untuk menjual dien dan saudara-saudara seagama atas nama agama.
“Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Ash-Shaff 10-11).
Nabi juga telah menggambarkan, “Pokok pangkal urusan adalah Islam, tiang-tiang tegaknya adalah sholat dan puncak ketinggiannya adalah Jihad fie sabilillah.”
Tabiat jalan itu juga digambarkan dengan jelas saat Rasulullah menanggapi keluhan sahabat Khabbab bin Al-Art diawal masa kenabian. Ketika itu Khabbab mengadukan penyiksaan yang dialaminya. Nabi saw menjawab, “Pada zaman sebelum kamu ada seorang laki-laki yang ditanam ke dalam tanah, lalu dibawakan gergaji dan diletakkan di kepalanya. Maka digergajilah tubuhnya menjadi dua. Namun hal itu tidak menghalanginya dari tetap teguh kepada dien-nya. Ada juga yang dipasang sisir besi, sehingga tidak ada yang tersisa daging melekat di tulangnya. Namun hal itu tidak menghalanginya untuk tetap teguh menggenggam dien-nya…”(Al-Bukhari).
Memahami tabiat jalan, akan memudahkan seorang hamba untuk mempersiapkan bekal menempuh jalan itu. Apalagi jika hamba tersebut tak berhenti belajar dan memperdalam detail tabiat jalan itu, peluang untuk selamat menempuhnya lebih besar. Juga, ketika suatu saat karena keteledoran dan kelalaiannya menyimpang dari jalan, hamba tadi lebih mudah untuk kembali. Begitulah karakter kaum Robbaniyyun, Allah menyematkan sifat khusus, bi maa kuntum tu’allimuun al-kitaab wa bi maa kuntum tadrusuun, “tersebab kalian selalu mengajarkan Al-Qur-aan dan senantiasa mempelajarinya”
sumber : kiblat.net
14.17
Jalan Mana Yang Kamu Pilih
Written By Anonim on Kamis, 26 September 2013 | 14.17
![]() |
| Klik untuk memperbesar |
1) Al Haq melawan Al Bathil
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu[43], sedang kamu mengetahui". (QS. 2:42)
dan Katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. 17:81)
2) Hukum Alloh vs Hukum Thoghut
"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yakin ?" (QS. 5:50)
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya". (QS. 4:60)
3) Alloh sebagai Pelindung Mukmin vs Thoghut sebagai pelindung Kafir
"Alloh pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah Thoghut, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya". (QS. 2:257)
4) Mukmin Berperang Fii Sabilillah vs Kafir berperang Fii Sabilith Thoghut
"orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah". (QS. 4:76)
TIDAK ADA PILIHAN TENGAH-TENGAH (MAU ENAKNYA SAJA)….!!!
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Alloh dan Rosul-Rosul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Alloh dan Rosul-Rosul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir)." (QS. 4:150)
“dan Katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan(89). sebagaimana (kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (kitab Allah) (90), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi (91). (QS. 15:89-91).
TENTUKANLAH PILIHAN SIKAP ANDA SEKARANG JUGA DAN HADAPI JUGA RESIKO PILIHAN ANDA TERSEBUT….!
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) Ad Dien (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Alloh, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Alloh Maha mendengar lagi Maha mengetahui". (QS. 2:256)
"dan tidaklah Kami mengutus Rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan". (QS. 18:56)
orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Alloh, Alloh menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka.
dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan Itulah yang haq dari Robb mereka, Alloh menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki Keadaan mereka.
yang demikian adalah karena Sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang bathil dan Sesungguhnya orang-orang mukmin mengikuti yang haq dari Robb mereka. Demikianlah Alloh membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka. (QS. 47:1-3)
Jika anda seorang beriman maka masuklah kepada Dienul Islam secara Kaffah baik kehidupan idelogi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, ataupun kehidupan sebagai pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa.
Janganlah mengikuti langkah syetan, program syaitan dan kebijakan syetan yang semuanya diambil berdasarkan ro’yu (akal), bukan bersumberkan Al Quran dan Hadits Shohih.
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu". (QS. 2:208).
Janganlah anda mengira masuk "Jannah" itu gampang diraih dikarenakan anda telah Muslim…!!!
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Alloh?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat". (QS. 2:214)
Label:
Hukum Alloh,
Hukum Thoghut,
Tausiyah
10.47
Pesan Dari Balik Jeruji
Written By Anonim on Selasa, 24 September 2013 | 10.47
PESAN DARI BALIK JERUJI BESI
PESAN DARI USTADZ AMAN ABDURRAHMAN
UNTUK SEMUA IKHWAN
Kepada semua ikhwan
Assalamu ‘alaykum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu
Segala puji hanya milik Allah yang menguji hamba-hamba-Nya dengan kesenangan dan kesulitan. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi-Nya berikut keluarga dan sahabatnya.
Ikhwani fillah, ketahuilah bahwa tauhid itu mahal nilainya dan besar konsekuensinya, sehingga harus dibayar mahal dengan pengorbanan yang banyak baik itu keterbunuhan, kekejaman penyiksaan musuh maupun pemenjaraan ataupun perampasan harta benda.
Komitmen dengan tauhid di zaman ghurbah ini akan selalu diliputi rasa takut dan cemas dari kekejaman musuh sebagaimana yang dialami Nabi Musa dan pengikutnya di Mesir dan sebagaimana yang dialami Rasulullah dan para sahabat di awal Islam. Namun jangan sampai rasa takut dan cemas itu menyebabkan antum meninggalkan tauhid ini, karena itu adalah sifat orang-orang yang Allah cela di dalam Firman-Nya : “Dan di antara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah di atas suatu tepi (kondisi), dimana bila dia mendapatkan kebaikan maka dia tentram dengannya, dan bila dia terkena fitnah (ujian/bencana) maka dia terpuruk ke belakang. Dia merugi (di) dunia dan di akhirat, dan itulah kerugian yang nyata.” Al Hajj : 11
Yaitu orang-orang yang mau komitmen dengan tauhid di saat kondisi lapang dan senang dan saat kondisi mencekam dan takut mereka meninggalkannya.
Tapi hendaklah antum menjadi orang-orang yang bertambah keyakinannya akan kebenaran tauhid ini di saat semakin dahsyatnya permusuhan thaghut dan ansharnya terhadap penganut tauhid ini yang tidak rela diperbudak oleh mereka. Tapi andai antum berpaling dari tauhid ini, maka Allah akan mengganti antum dengan yang lain yang lebih mencintai Allah ta’ala, sebagaimana Firman-Nya : “Dan bila kalian berpaling, maka Allah akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain, kemudian mereka itu tidak seperti kalian.” Muhammad: 38. Dan Firman-Nya: “Barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai-Nya” Al Maidah: 54
Ikhwani fillah ….. bersabarlah sesaat untuk kenikmatan yang tidak akan sirna … Perhatikanlah saudara-saudara antum yang sedang dipenjara … santunlah keluarga-keluarga para syuhada dan yang tertahan di jalan Allah, mereka itu kaum fuqara yang sangat membutuhkan yang malu meminta, mereka hanyalah kaum Hawa dan anak-anak yang tidak berdaya kecuali meneteskan air mata kepedihan dan duka, merekalah orang-orang lemah yang doanya dikabulkan Allah. Rasulullah berkata ”Kalian diberi kemenangan dan diberi rizqi itu hanyalah dengan sebab orang-orang lemah diantara kalian.”
Ikhwani … Apa yang ana yakini di dalam permasalahan tauhid beserta kaitannya dengan realita sekarang telah tertuang di dalam tulisan dan terjemahan ana, bersungguh-sungguhlah di dalam pengkajian, lapangkanlah dada untuk menerima kebenaran dan berdoalah selalu kepada Allah memohon bimbingan. Jangan biarkan syubhat membayangi keyakinan, karena bila syubhat itu dibiarkan ada di dalam pikiran, maka ia akan menjadi petaka bila disertai syahwat ingin hidup bebas leluasa layaknya orang yang tidak mengamalkan tauhid.
Oleh sebab itu tanggungilah syubhat dengan keyakinan yang bersumber dari ilmu Al Kitab dan As Sunnah, dan hadapilah syahwat dengan kesabaran.
Ana berdoa kepada Allah semoga memberikan bimbingan, keteguhan dan kesabaran dan husnul khatimah bagi kita semuanya ….
Amin ya Rabbal ‘Alamin …..
Akhukum Fillah
Abu Sulaiman
Di Rutan PMJ
Label:
Tausiyah
07.05
Ingin Islam Menang, Tapi Enggan Berjuang
Written By Anonim on Sabtu, 21 September 2013 | 07.05
Dalam Taujih Manhajiyah, Syekh Usamah rahimahullah pernah menjelaskan manhaj yang jelas untuk dijalani jika umat Islam hendak mencapai kemenangan.
“Maka manhajnya adalah yang nampak jelas dan terang di hadapan kita, yaitu beberapa kriteria pasti yang nampak gamblang tercantum pada nash syari’at yang turun terakhir kali, Alloh ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang beriman, barangsiapa murtad dari agamanya di antara kalian, Alloh akan datangkan kaum yang Ia mencintai mereka dan merekapun mencintai Alloh; lunak terhadap orang-orang beriman, keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Alloh dan tidak pernah takut celaan orang yang suka mencela. Itulah keutamaan Alloh yang Ia berikan kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah : 45)
Syekh Usamah bin Ladin rahimahullah melanjutkan,
“Ketika kita berbicara mengenai kondisi yang dialami oleh umat Islam dewasa ini, berikut penjajahan, kedholiman dan permusuhan yang yang dilakukan oleh pasukan Israel dan pasukan Amerika terhadap mereka, belum lagi terpuruknya naungan Islam di muka bumi, maka sudah seharusnya mencari kembali petunjuk Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam menegakkan agama ini, di saat Islam datang dalam keadaan masih terasing.
Sesungguhnya orang yang mau mencermati hal itu, ia akan dapati bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sejak pertama kali sangat serius dalam menawarkan dakwahnya kepada para kabilah ketika beliau memulai dakwahnya terang-terangan. Kalau kita mau melihat pada unsur terpenting yang beliau gunakan dalam berdakwah kepada para kabilah Arab tadi, kita akan temukan hal itu sangat jelas sekali, yaitu:
- Bahwa beliau mengajak mereka kepada syahadat tauhid, bersaksi bahwa tiada ilaah (sesembahan yang haq) selain Alloh, dan bahwa Muhammad adalah utusan Alloh.
- Point yang lain adalah bahwa beliau menyeru mereka agar siap untuk melindungi dan membela.
Sebagaimana hal itu tampak jelas pada dakwah beliau kepada Bani ‘Amir bin Sho’sho’ah, ketika mereka mengatakan kepada beliau: “Kepada apa engkau mengajak kami wahai saudara Arab?” beliau menjawab, “Aku mengajak kalian agar bersaksi behwasanya tidak ada ilaah kecuali Alloh dan bahwa aku adalah utusan Alloh, dan agar kalian siap melindungi dan membelaku.”
Di sini, tampak di hadapan kita sebuah pelajaran yang jelas, bahwa dakwah dan kalimat agung ini (kalimat syahadat) harus memiliki miliu (basis), pohon yang mulia ini harus ada tanah untuk tumbuh berkembang, dan itulah yang akan menolong dan memberikan tempat bagiku. Dari sinilah, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam terus mencari tanah (untuk miliu) ini. Di tengah-tengah pencarian itu, beliau berdakwah di Makkah dan tinggal di sana selama 13 tahun.
Semua ilmu yang kita miliki hanya sebagian kecil dari ilmu beliau ~ Alaihis-Shalatu was Salam ~ sedangkan beliau adalah orang Arab terfasih dan diberi Jawaami’ul Kalim (kemampuan untuk berbicara secara simpel tapi mengandung pengertian yang luas). Beliau adalah orang yang dikuatkan oleh wahyu dari atas langit yang tujuh, namun bersamaan dengan itu semua, tidak ada yang mau beriman kepada beliau selain beberapa puluh sekian dari kalangan sahabat yang mulia ~ semoga Alloh meridhai mereka ~.
Dari sini, tampak jelas juga bahwa kalimat ini meski memiliki kekuatan yang besar, ia tetap harus didukung oleh unsur-unsur lain supaya bisa mengayomi bumi. Kondisi terus bertahan seperti itu, sampai akhirnya Alloh ta’alamenganugerahkan bumi Madinah Munawwarah, dan Alloh anugerahkan kaum Anshor ~Kabilah Aus dan Khozroj~. Tatkala mereka melindungi dakwah, Islampun menyebar luas, dan dalam jangka beberapa tahun saja, ratusan ribu orang masuk Islam di Jazirah Arab, dan manusiapun berbondong-bondong masuk Islam.
Maka di sini ada sebuah pelajaran sebagaimana telah saya sebutkan; bahwa dakwah tanpa kekuatan hanya akan menjadi pecundang, dakwah ini wajib mencari kekuatan di bumi dan pelosok negeri. Makna ini tampak jelas di saat-saat seperti sekarang ini, sejak runtuhnya daulah Islam dan daulah khilafah serta bangkitnya aturan-aturan yang berhukum kepada selain yang diturunkan Alloh ~ yang itu pada hakekatnya adalah memerangi syari’at Alloh ~ meskipun banyak sekali terdapat universitas, sekolah, buku, para khatib, imam masjid dan orang-orang yang hafal Al-Qur’an, namun Islam tetap saja dalam kondisi lemah dan sangat memprihatinkan, sebab manusia tidak berjalan sesuai dengan manhaj Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.”
Manhaj Keliru Di Tengah Kemerosotan Ummat
Sementara itu, Syekh Abu Qotadah Al Fhilistin fakkallahu asrahu dalam bukunya Al Jihad wal Ijtihad menjelaskan salah satu metode perubahan di era masa kemerosotan berfikir yakni metode tarbiyah. Metode tarbiyah adalah menggembleng manusia dia atas ajaran-ajaran Islam sehingga bertambah banyak jumlah orang-orang Islam kemudian berlangsung proses ilfiltrasi dan sirkulasi tanpa mengajarkan lebih dahulu kepada mereka ilmu dan taktik perang. Bahkan ambisi terbesar mereka adalah menjadi pengusung Al Kitab atau pakar politik atau ahli ibadah yang berpuasa siang harinya dan shalat tahajjud malam harinya menjadi penghafal Qur’an dan hadits.
Syekh Abu Qotadah melanjutkan, apakah toghut tidak mampu mengkader 100 orang prajurit pilihan dalam pasukan kavelerinya, di tangan mereka senjata dan kekuatan, lalu mereka menyatroni para pemilik ilmu kemudian menyembelihnya, menyatroni para pakar ilmu dan kemudian merusak karya seni mereka, menyatroni para ahli ibadah kemudian menutup tempat-tempat suci mereka dan merobohkan masjid-masjid mereka?
Maka, cobalah ambil pelajaran wahai orang-orang yang mau berfikir…!
Wallahu’alam bis showab!
Label:
Fiqih Jihad,
Tausiyah
16.09
Ustadz Aman : Seandainya Syekh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab Hidup Saat Ini
Written By Anonim on Jumat, 20 September 2013 | 16.09
NUSAKAMBANGAN - Saat ini banyak orang menukil dan menisbatkan diri pada ucapan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rhm, dan ucapan Al Imam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rhm, untuk pelbagai kepentingan. Padahal, sebagaimana yang diungkapkan Ustadz Aman-fakkallahu asrahu-seandainya Syekh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab hidup saat ini, maka beliau pasti sudah ditangkap atau dipenjarakan oleh para penguasa thaghut. Lho kok bisa?
Berapa banyak orang yang menukil ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan ucapan Al Imam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah, bisa jadi seandainya orang-orang itu hidup di masa para ulama itu malah menjadi lawan atau musuh paling dasyat terhadap dakwah para ulama itu.
Dan seandainya Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab hidup zaman sekarang tentu beliau ditangkap atau dipenjarakan oleh para penguasa thaghut yang dianggap ulil amri oleh orang-orang Murji’ah yang mengklaim salafiy (salafiy maz’um) itu, dan tentu mereka mencap beliau sebagai khawarij dan takfiriy.
Dan seandainya orang-orang quburiyyun dan orang-orang yang masuk dalam sistim demokrasi itu hidup di zaman Fir’aun tentu mereka itu menjadi pengikut Fir’aun dan ikut dalam sistim Fir’aun..!
(Abu Sulaiman)
Label:
Tausiyah
08.55
Sifat Munafikin: Menggembosi Jihad dan Mencela Mujahidin
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Kaum munafikin memiliki modus dan aksi yang berbeda-beda di setiap zaman dan tempat. Tapi mereka memiliki satu tabiat yang sama: banyak berdusta, malas beribadah, suka mencari muka, mencela pelaku kebaikan, mencibir orang-orang shalih & yang berbuat baik, benci terhadap Islam & menunggu-nunggu kehancurannya sehingga mereka menyangka Allah tidak akan menolong tentara-tentara-Nya (mujahidin) & tak akan memenangkan agama-Nya.
Allah menyingkap rahasia mereka di zaman Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang akan tetap terulang di zaman-zaman sesudahnya,
بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا
“Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” (QS. Al-Fath: 12)
Karenanya, kaum munafikin menjadi kaum yang sangat semangat dan getol menggembosi jihad dan menyudutkan mujahidin. Menyampaikan kritik-kritik pedas yang melemahkan jihad dan melabeli aktifitas jihad dengan label-label negatife; teroris, khawarij, bughat, dan semisalnya. Mereka melarang kaum muslimin menyampaikan infak mereka untuk kegiatan jihad (perang) fi sabilillah sehingga Islam melemah dan kebangkitan Islam terkubur.
. . . kaum munafikin menjadi kaum yang sangat semangat dan getol menggembosi jihad dan menyudutkan mujahidin. Menyampaikan kritik-kritik pedas yang melemahkan jihad dan melabeli aktifitas jihad dengan label-label negatife; teroris, khawarij, bughat, dan semisalnya. . .
Ibnu Katsir Rahimahullah menyebutkan bahwa mencibir orang-orang yang beramal untuk Allah itu termasuk sifat munafik. “Tak seorangpun lepas dari kritikan dan celaan kaum ini dalam semua kondisi. Sampaipun orang-orang yang bersedekah akan selamat dari (celaan) mereka. Jika ada orang yang datang (bersedekah) dengan harta yang banyak maka mereka berkata: ini orang riya’ (pamer & berharap pujian,-terj). Jika datang (bersedekah) dengan harta sedikit maka mereka berkata: Sesunguhnya Allah tidak butuh sedaqoh ini,” kata beliau dalam tafsirnya, QS. Al-Taubah: 79.
Kaum munafikin absen dari amal-amal kebaikan untuk dien ini. Mereka tidak mau berkontribusi memberi manfaat untuk Islam dan kaum muslimin. Perhatikan ayat berikut ini yang turun berkaitan dengan Jadd bin Qais, manakala Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadanya, “Wahai Jadd, maukah engkau memberi pelajaran kepada Bangsa Romawidi tahun ini?”
Lantas Al-Jadd menolak sambil mengungkapkan alasannya, “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya engkau beri izin aku (untuk tidak berperang) dan tidak menjerumuskanku ke dalam fitnah. Demi Allah, kaumku mengenalku sebagai laki-laki yang tidak kuat terhadap wanita, aku takut jika aku melihat wanita Bani Ashfar (Romawi/eropa) aku tak tahan.” Kemudian terhadap Al-Jadd ini turun ayat,
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ
“Di antara mereka ada orang yang berkata: Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah". Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Taubah: 49)
Kekhawatirannya terhadap godaan wanita Romawi tidaklah seberapa. Bukan itu masalah utamanya. Tapi mentalitasnya yang ingin berpaling dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan sikap egoisnya daripada agama Allah dan Rasul-Nya.
. . . Kaum munafikin absen dari amal-amal kebaikan untuk dien ini. Mereka tidak mau berkontribusi memberi manfaat untuk Islam dan kaum muslimin. . .
Abu Ja’far al-Thabari dalam menafsirkan QS. Al-Taubah: 45 berkata, “ini adalah pemberitaan dari Allah kepada Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang tanda orang munafikin: di antara tanda-tanda mereka yang dapat diketahui adalah tidak mau ikut berjihad fi sabilillah. Mereka meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk tidak ikut keluar bersama beliau jika mereka diseru berjihad dengan menyampaikan alasan-alasan palsu.
Allah berkata Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam: Ya Muhammad, jangan sekali-kali kamu beri izin untuk tidak ikut bersamamu jika kamu pergi untuk memerangi musuhmu kepada siapa siapa yang telah meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad tanpa ada udzur. Karena tidaklah meminta izin kepadamu dalam masalah itu kecuali ia seorang munafik yang tak beriman kepada Allah dan hari akhir. Sementara orang yang membenarkan Allah dan mengakui keesaan-Nya, beriman dengan hari kebangkitan dan negeri akhirat, pahala dan siksa; maka ia tak akan meminta izin untuk tidak ikut berperang dan berjihad melawan musuh-musuh Allah dengan harta dan jiwanya.”
Hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga mengabarkan tentang sifat mereka yang enggan berjihad fi sabilillah. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ, وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِهِ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
“Barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang dari kemunafikan.”
Imam an Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarah-nya atas Shahih Muslim, “Maknanya: siapa yang melakukan ini maka dia menyerupai orang-orang munafik yang meninggalkanjihad dalam sifat ini. Sebab meninggalkan jihad adalah satu cabang kemunafikan.”
Syaikhul Islam mengatakan dalam al-Fatawa, "yang dimaksud dengan nifak kecil adalah nifak dalam amal dan yang serupa, seperti berbohong ketika bicara, ingkar ketika berjanji, berhianat ketika diberi amanat, atau berlebihan ketika bertengkar. Termasuk dalam masalah ini adalah berpaling dari jihad. Sikap ini termasuk karakter orang-orang munafik. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia meninggal di atas satu cabang kenifakan
Semua ini menjadi peringatan bagi kaum muslimin agar waspada terhadap kaum munafikin dari tipu daya, makar dan berbagai bentuk permusuhan mereka; di mana hal tersebut sulit diendus dan dideteksi. Juga agar mereka menjauhi sifat-sifat orang-orang munafik yang benci kepada perjuangan Islam dan suka mencela para mujahidin. Lalu mereka mengambil peran dalam perjuangan jihad ini, walau minimalnya masih dalam hati mereka berupa niat. Semoga Allah tolong tentara-tentara-Nya dan menganugerahkan kemenangan untuk mereka serta meninggikan agama-Nya di atas isme dan agama-agama yang ada. Amiin. Walalhu Ta’ala A’lam.
-------------
Label:
Fiqih Jihad,
Tausiyah
14.59
Dengan Apa Kami Dituduh Di Dalam Jihad Kami?
Written By Anonim on Kamis, 19 September 2013 | 14.59
Dengan Apa Kami Akan Dituduh Di Dalam Jihad Kami? Demikian, bahasan terakhir sebelum ikhtitam (penutupan) buku karya Syekh Abu Qotadah Al-Filasthiny-fakkalallahu asrahu-berjudul Rambu-Rambu Ath-Thaifah Al-Manshurah Di Negeri Kaum Mukminin Di Syam.
Beliau menjelaskan bahwa sesungguhnya musuh-musuh Allah telah berancang-ancang mengatur strategi mereka dalam rangka menjaga keyakinan-keyakinan batil mereka dan kekuasaannya, yaitu dengan melemparkan berbagai macam tuduhan terhadap kaum Muslimin.
Mereka telah berdusta terhadap Allah Azza wa Jalla, terhadap diri mereka sendiri dan terhadap manusia. Dan ini adalah salah satu salah satu cara dalam menghalang-halangi dari jalan Allah ta’ala dan sungguh Allah ta’ala telah menyingkap dakwaan-dakwaan ini dan membongkar urusannya bagi orang-orang beriman agar mereka tetap berada di atas bashirah dan cahaya dari Tuhan mereka. Maka tidaklah meredam bara api iman yang menyala di dalam hati-hati mereka. Mereka tidak berpaling dari syari’atNya karena segan darinya, dan karena malu jika mereka dituduh dengan berbagai macam tuduhan.
Dan diantara tuduhan itu adalah sebagai berikut :
1. Kami akan dituduh bahwa sesungguhnya kami berusaha untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan. Allah Subhanahu wa ta'ala, berfirman : “Mereka berkata : “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati dari nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi.” (QS Yunus : 78)
2. Kami akan dituduh berbuat kerusakan di muka bumi dan mendatangkan agama baru. Allah Subhanahu wa ta'ala, berfirman : “Dan berkata Fir’aun (kepadapembesar-pembesarnya), ’Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya. Karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama mu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS Ghafir :26)
3. Kami akan dituduh bahwasanya dengan mengikuti kami akan membawa kepada kemiskinan dan memacetkan sumber-sumber ekonomi (seperti menghambat pariwisata, menyediakan tempat-tempat mesum dan hotel-hotel kosong dan macet). Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman : “Dan mereka berkata : “Jika kami mengikuti petunjuk-petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri-negeri kami.” (QS. Al-Qashash : 57) dan firmanNya : “Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya) : “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib tentu saja kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raf : 50).
4. Tuduhan mereka terhadap kami, bahwa kami memaksakan pendapat dengan kekuatan dan penguasaan, tidak melalui saluran mayoritas (pesta demokrasi). Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman : “Kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota (Fir’aun berkata) “Sesunguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil (sedikit).” (QS Asy-Syu’araa’ : 53, 54)
Semua tuduhan-tuduhan itu tak lain tujuannya hanyalah untuk menolak dan memalingkan manusia dari agama Allah dan petunjukNya. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman : “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir.” (QS An Nisa : 89)
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS Al-Baqarah : 120)
“Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-Rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali ke pada agama kami.” (QS Ibrahim : 13)
“Sesungguhnya jika mereka mengetahui tempat mu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (QS Al-Kahfi : 20)
Syekh mengakhiri dengan pesan, oleh karena itu wahai saudaraku Muslim, waspadalah kamu dari fitnah mereka. Pegang teguhlah dengan tali Allah yang tidak akan tersesat orang yang berpegang teguh dengannya, dan kamu akan selamat, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah, ketahuilah bahwasanya di belakang kamu ada surga yang abadi.
“Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang Berkuasa.” (QS Al Qomar : 55)
“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS Ash-Shaff : 13).
Dan carilah kematian, kamu akan diberi kehidupan…Allahu Akbar!
Wallahu’alam bis showab!
Label:
Fiqih Jihad,
Tausiyah
16.41
Advice to the Youth
Written By Anonim on Senin, 16 September 2013 | 16.41
Al-Farooq Latest Release:
Speech by Commander Zubair Baloch in Balochi Language
"Advice to the Youth"
بسم الله الرحمن الرحیم
Commander Zubair Baloch of Harakat Ansar Iran (may Allah protect him) advises the youth of Balochistan as well as the youth of the Ummah to wage Jihad against the Shia stronghold in Iran.
The speech comes as tensions are rising between Sunnis and Shias in Balochistan. Issues which have sparked outrage include Qazwini's comments against Balochi women as well as the pending execution of 26 Sunnis in Iran.
فرمانده زبیر بلوچ حفظه الله از حرکت انصار ایران
نصایحی چند به جوانان اهل سنت بلوچستان و تمامی جوانان اسلام برای
جهاد بر علیه شیعیان رافضی در ایران و ندای لبیک به برادران و خواهران درعراق و سوریه .
وجواب دندان شکن به تهمت های آخوند رافضی قزوینی که به دختران پاک بلوچ و همچنین به مادر مومنان عائشة رضي الله عنها
برادران اهل سنت هم اکنون وقت جهاد است
وقت برخاستن و برداشتن سلاح بر علیه حکومت رافضی ایران است
Arab Subtitle
English Subtitle
09.05
Ustadz Rois : Irfan S Awwas Tidak Belajar Dari Sejarah!
NUSAKAMBANGAN-Ustadz Rois, Mujahid terpidana mati Bom Kedubes Australia mengirimkan artikel khusus ke redaksi Al-Mustaqbal Channel terkait tulisan Irfan S Awwas yang menanggapi tulisan Ustadz Aman berjudul “Membantah Penyesatan Irfan S Awwas Yang Disebarluaskan Oleh Situs Arrahmah.com. Berikut tulisan lengkap beliau, semoga bermanfaat!
Bismillahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillah, washsholatu wassalaamu ‘ala Rosulillah. Ammaa ba’du.
Sebuah ironi, apa yang dilontarkan oleh Irfan S. Awwas yang dimuat oleh situs www.arrahmah.com menyampaikan kebolehannya untuk mengambil demokrasi sebagai sebuah mekanisme perjuangan untuk menegakkan syariat Islam. Dengan dalih bahwa demokrasi sebagai sebuah ideologi adalah kafir tapi sebagai mekanisme adalah mubah/ boleh. Kemudian tulisan tersebut mendapat bantahan dari ust. Amman Abdurrahman dengan disertai hujjah dan dalil yang jelas. Kemudian ustadz Irfan menulis kembali di situs milik MMI disertai pernyataan bahwa ini adalah sikap resmi MMI yang menuduh bahwa ustadz Aman masih melihat demokrasi pada jaman yunani kuno disertai tuduhan bahwa ustadz Aman adalah takfiri.
Kalau dilihat dari isinya, tulisan ini samasekali tidak menjawab bantahan ustadz Aman. Yang ada hanya tuduhan dan apologi (Jadi bukan ustadz Aman yang berapologi). Pembuat tulisan tersebut terlihat dengan jelas bahwa dia tidak bisa menyanggah apa yang disampaikan ustadz Aman. Isinya jauh melenceng dari permasalahan.
Baik, penulis akan coba melihat hal ini dari beberapa sudut pandang, sebagaimana MMI pun melihat demokrasi dari 2 sudut pandang, yaitu sebagai ideologi dan sebagai mekanisme. Ini sudut pandang penulis dalam hal ini:
1. Sudut pandang demokrasi. Demokrasi adalah sebuah sistem hidup yang berasal dari buah pikiran manusia untuk diterapkan kepada masyarakat tertentu di sebuah wilayah negara. Demokrasi/ democracy berasal dari bahasa yunani/ latin, yaitu demos yang berarti rakyat dan cratos yang berati kakuasaan/ kedaulatan atau hukum. Istilah ini berasal dari jaman yunani kuno yang dikonsep oleh plato dan socrates. Secara singkat pengertian demokrasi adalah kekuasaan/ kedaulatan dan hukum oleh, dari dan untuk rakyat. Jadi dalam demokrasi yang membuat hukum, menjalankan hukum dan obyek hukum adalah rakyat. Mekanismenya adalah rakyat memilih wakilnya melalui pemilu untuk ditempatkan di parlemen/ legislatif (DPR/ MPR) sebagai wakil rakyat yang berhak membuat hukum. Kemudian sebagai pelaksana hukum yang dibuat oleh parlemen, rakyat memilih presiden sebagai pemegang dan pelaksana hukum yang dibuat parlemen.
Kemudian kita bahas mekanisme pembuatan hukum atau undang-undang di parlemen. Mekanismenya adalah pemerintah/ eksekutif (presiden dan jajarannya) mengajukan RUU ke parlemen, lalu parlemen mengadakan rapat dan pemilihan suara dari berbagai faksi untuk menetapkan undang-undang. Peserta rapat adalah seluruh faksi yang ada di parlemen sesuai dengan bidang masing-masing. Dalam rapat tersebut diambil suara terbanyak. Apabila mayoritas suara menyetujui, maka undang-undang di sah kan. Tapi kalau mayoritas suara menolak, maka tidak disahkan. Hal ini menyangkut semua sisi kehidupan yang berkaitan dengan masyarakat yang hidup di suatu negara. Baik dalam masalah hukum, ekonomi, kemasyarakatan, peribadatan dan kepercayaan dan lain sebagainya. Dalam sistem demokrasi, tidak dilihat siapa yang menjadi wakil rakyat. Apakah dia orang baik atau orang jahat. Apakah dia mukmin atau kafir. Yang terpenting dia mendapat dukungan suara terbanyak, maka dialah pemenangnya. Demikian juga dalam mekanisme pengesahan hukum dan undang-undang. Tidak dilihat apakah hukum dan undang-undang yang disahkan sesuai dengan ajaran islam atau tidak. Apakah menghina islam atau tidak. Apakah membela islam atau menghancurkan islam. Yang penting mana yang didukung oleh banyak suara. Demokrasi tidak membedakan agama dan keyakinan. Tidak perduli apakah dia orang islam atau kafir. Dalam demokrasi semua rakyat memiliki kesamaan hak dalam hukum dan keadilan (padahal faktanya tidak, hanya penguasa dan pemilik modal yang mendapatkan keadilan).
2. Sudut pandang Islam. Sudut pandang Islam Islam adalah sebuah sistem hidup yang berasal dari Allah yang dicontohkan dan dibawa oleh Rosululloh SAW yang diperuntukkan bagi seluruh makhluk. Sebagaimana firman Allah di QS. Ali- Imron ayat 19 : Sesungguhnya ad-dien (aturan, hukum dan undang-undang) yang di ridhai di sisi Allah hanyalah Islam. Ini menunjukkan bahwa aturan, hukum dan undang-undang selain Islam tidak diridhai oleh Allah. Allah berfirman: Maka mengapa mereka mencari dien (aturan, hukum dan undang-undang) yang lain selain dien Allah, padahal semua yang di langit dan di bumi tunduk (berserah diri) kepada Allah (baik) dengan sukarela ataupun terpaksa. (QS. Ali- Imron : 83) Firman Allah: Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. (QS. Yusuf : 40) … Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.. (QS. Al- An’am 57) Firman-firman Allah tersebut di atas berkaitan dengan hak pembuatan hukum. Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang membahas masalah itu. Adapun firman Allah yang berkaitan dengan pelaksana hukum dan obyek hukumnya diantaranya adalah: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah… (QS. Al- Maidah: 49) … Dan jika kamu mentaati mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al- An’am 121) Maka demi Robb-mu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An- Nisa : 65) Dan sungguh Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka beralih kepada pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk bersama mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka jahannam. (QS. An-Nisa :140)
Dari sudut al-wala (loyalitas) dan al- baro (anti loyalitas) Dalam demokrasi baik ideologi atau mekanismenya, loyalitas dan anti loyalitas dibangun berdasarkan kepentingan yang sama tanpa melihat latar belakang agama dan sosial seseorang. Padahal dalam Islam Allah telah menentukan, sebagaimana firman-Nya: Wahai orang-orang yang beriman!! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yahudi dan nasrani sebagai teman setia(mu), mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa diantaramu menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak akan memberi petunjuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah : 51). Lihat juga QS. Al- Mujadilah : 22).
Allah menyebut hukum selain hukum Allah adalah hukum jahiliyah. Firman Allah: Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki.. (QS. Al- Maidah : 50)
Itulah tinjauan dari dua sudut pandang, yaitu demokrasi dan Islam. Selain itu, terlihat juga bahwa Irfan S. Awwas tidak belajar dari sejarah. Baru beberapa hari yang lalu kita saksikan di Mesir, Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu. Mereka menjadikan demokrasi sebagai mekanisme untuk penerapan syariat (katanya). Tapi apa yang terjadi? Apakah mereka berhasil? Yang ada malah mereka mengorbankan ribuan nyawa tanpa guna. Bahkan di Indonesia sendiri, Masyumi pernah berjaya menjadi partai pemenang pemilu dan menjadikan demokrasi sebagi mekanisme penerapan syari’at. Apakah mereka bisa? Apakah mereka berhasil? Tidak!! Sekali lagi tidak!! Islam tidak mungkin tegak dengan sistem demokrasi dengan cara apapun. Bukankah Rosululloh telah mencontohkan bagaimana cara untuk menegakkan syariat dan hukum Allah. Syariat Islam hanya akan tegak dengan jihad. Silahkan baca tentang hadits-hadits yang menjelaskan tentang thoifah manshuroh. Juga dalam hadits lain Rosululloh ditanya tentang siapa yang berjihad fi sabilillah. Beliau menjawab, “Barangsiapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah, dialah yang berperang di jalan Allah.” Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan meninggikan kalimat Allah adalah mentauhidkan Allah dan menegakkan hukum dan syari’at Allah. Ingat!! Syari’at Allah hanya akan tegak dengan jihad, bukan dengan demokrasi. Dan juga untuk ustadz Irfan, jangan heran kalau orang yang dipenjara bisa tahu berita, baik cetak, elektronik dan dunia maya. Silahkan tanya ponakan anda yang baru bebas dar penjara beberapa waktu yang lalu. Tulisan ini tidak bermaksud menjatuhkan pihak tertentu dan mengangkat pihak tertentu. Tulisan ini dimaksudkan untuk mendudukan masalah sesuai pada tempatnya dan sesuai permasalahannya.
Sebelum mengakhiri tuisan ini, sedikit kita singgung lagi tentang istilah demokrasi, yaitu hukum, kedaulatan dan undang- undang dari, oleh dan untuk rakyat. Dan itulah hakikat demokrasi yang sangat berbeda dengan Islam. Kalau penulis mengibaratkan demokrasi adalah seperti babi. Asal babi adalah haram, baik kulit, daging, bulu dan semua yang berasal dari babi. Semuanya adalah haram. Baik dagingnya kemudian di rendang, di sate, di sop dan lain-lain semuanya haram.
Demikian juga demokrasi. Apakah istilahnya mau dijadikan istilah Islam, di klaim bagian dari Islam, diakui sesuai syari’at Islam, tetap dalam bingkai demokrasi yang dibuat oleh orang kafir. Barangsiapa mengikuti dan membenarkan baik sistem, mekanisme maupun ideologinya maka dia tersesat. Lihat QS. Al- an’am 153. Kesesatan di sini adalah kemusyrikan. Lihat QS An-Nisa ayat 48 dan 116.
Mudah-mudahan Allah selalu melindungi dan membimbing kita semua untuk selalu berjalan di atas kebenaran. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rosululloh SAW, keluarga, sahabat dan pengikutnya yang setia mengikuti beliau.
Alhamdulillah. Ditulis di penjara Kembang kuning Nusakambangan.
-----------------------
Label:
Syubhat Demokrasi,
Tausiyah
11.13
Ustadz Salim Mubarok : Renungan Untuk Ansharut Thaghut!
Written By Anonim on Minggu, 15 September 2013 | 11.13
Betulkah klaim para anshorut thaghut selama ini, bahwa mereka berkerja demi cinta tanah air, patriotisme, dan sebagainya? Apakah mereka juga siap untuk bekerja tanpa bayaran demi ideologi jahiliyah kalian, sebagaimana Mujahidin dan Du’at Tauhid? Berikut renungan pagi dari Ustadz Salim Mubarok yang dikirim ke Al-Mustaqbal Channel via sms. Semoga bermanfaat!
Renungan Untuk Ansharut Thaghut
Sekiranya klaim kalian patriotisme, cinta tanah air, demi nusa dan bangsa, demi persatuan dan kesatuan bangsa, demi merah putih dan bhineka tunggal ika dan berbagai slogan jahiliyah yang lainnya itu benar-benar adalah tujuan kalian hidup, lalu kenapa kalian tidak mengharap kematian di atas ideologi-ideologi jahiliyah tersebut, sebagaimana musuh kalian para Mujahidin dan para Da’iTauhid mengharap kematian di atas apa yang mereka imani.
Seharusnya, kalian juga siap untuk kerja tanpa bayaran demi ideologi jahiliyah kalian, sebagaimana Mujahidin dan Du’at Tauhid tidak memperoleh gaji dalam membela apa yang mereka Dak’wahkan.
Allah berfirman:
“Maka inginkanlah kematian, jika kalian jujur (atas klaim kalian), maka tidaklah mereka menginginkan hal tersebut (kematian) sama sekali, disebabkan dosa yang telah mereka perbuat dengan tangan-tangan mereka, dan Allah Maha mengetahui orang-orang zalim.” (QS Al-Baqarah (2) : 94-95)
“Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuh mu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketauhilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS An-Nisa (4) : 104)
------------------------
Label:
Tausiyah
08.22
Mau Ke Mana Para Juru Dakwah Di Zaman Fitnah Ini?
Written By Anonim on Jumat, 13 September 2013 | 08.22
Pertanyaan tersebut layak kita ajukan di saat banyak para juru dakwah (du’at) yang binasa, karena terjebak dalam fenomena kitman, talbis dan tawalli. Parahnya lagi, sebagaimana hadits dari Rasulullah SAW., di zaman fitnah akan banyak para da’i (du’at) yang justru menjerumuskan ummat, menyeru mereka (ummat) ke pintu-pintu neraka jahannam, bukannya menyeru kepada Islam, mereka malah menyerukan ide-ide kufur. Na’udzu billahi min dzalik.
“Orang-orang menanyakan kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku menanyakan kepada beliau tentang kejelekan ~karena khawatir akan menjumpaiku~kukatakan, “Wahai Rosululloh, dulu kami berada dalam kejahiliyahan dan keburukan kemudian Alloh mendatangkan kebaikan ini?” beliau menjawab, “Ya.” Aku bertanya lagi, “Setelah kejelekan itu, adakah kebaikan lagi?” beliau menjawab, “Ya, dan di sana ada kabut.” Aku bertanya, “Apakah kabutnya?” beliau bersabda, “Satu kaum yang mengambil petunjuk selain petunjukku, engkau mengetahui hal itu dari mereka sementara kalian mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi?” beliau menjawab, “Ya, mereka adalah para penyeru di atas pintu-pintu jahannam, siapa menyambut seruan mereka, mereka akan lempar ia ke dalamnya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Siapakah para juru dakwah, da’i, atau para du’at yang disebut di hadits Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam, di atas?
Dalam Shahih Muslim Rosulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Cepatlah beramal sebelum terjadinya fitnah yang seperti sepotong malam yang gelap gulita, dimana seseorang beriman di pagi hari dan kufur di sore hari, sebaliknya kufur di sore hari dan beriman di pagi hari, ia menjual agamanya dengan komoditas dunia.” (HR.Muslim)
Syekh Umar Bakri Muhammad mengungkapkan bahwa terdapat orang-orang Islam tetapi mempropagandakan ide-ide bukan Islam, seperti nasionalisme, kapitalisme, sosialisme, dan demokrasi. Sifat dan perbuatan jahat orang-orang tersebut sudah tidak terhitung lagi banyaknya, bahkan mereka adalah ancaman paling berbahaya bagi keberadaan kaum muslimin dan kemunculan kembali khilafah, karena mereka adalah “ancaman” yang tidak terlihat (munafik).
Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa di zaman fitnah ini para juru dakwah sering terkena jerat iblis bernama Talbis.
At-Talbis, adalah salah satu dari jeratan berbahaya iblis untuk menggoda manusia, khususnya para ulama, da’i dan mujahidin. Iblis paling suka menjerat mereka dengan talbis, yakni agar mereka semua dengan sengaja menyembunyikan realitas tauhid. Toghut hari ini juga sangat senang apabila kaum Muslimin bisa terperangkap jerat iblis bernama At-Talbis, karena dengan demikian kita tidak lagi menolak atau mengingkari thoghut bahkan akhirnya menjadi sekutu thoghut, Na’udzu billah min dzalik!
Ikuti Millah Ibrahim!
Ustadz Aman Abdurrahman-fakkalahu asrahu-dalam salah satu tulisannya pernah menjelaskan bahwa akan ada tiga kelompok yang selamat dan akan ada tiga juru dakwah yang akan binasa, karena terjebak fenomena kitman, talbis, dan tawalli. Beliau menjelaskan sebuah hadits :
“Orang mu’min yang berbaur di tengah manusia dan dia sabar terhadap sikap buruk (penindasan) mereka adalah lebih baik daripada orang mu’min yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar terhadap sikap buruk mereka” (HR. Ibnu Majah, hasan, dari Ibnu Umar, diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan At Tirmidziy)
Hadits ini sederhana tapi kandungannya sangat besar dan sangat berkaitan dengan masalah Millah Ibrahim. Di sini Rasul saw mengatakan : “Orang mukmin yang berbaur di tengah manusia dan dia sabar terhadap sikap buruk (penindasan) mereka…” dalam arti dia tampil di hadapan manusia dan berinteraksi dengan mereka, tidak mengurung diri atau tidak mengasingkan diri. Dia sabar terhadap berbagai sikap buruk yang ditimbulkan oleh kaumnya.
Kata sabar tidak muncul kecuali setelah terjadi sesuatu yang mendorong orang tersebut untuk bersabar. Maksudnya adalah orang mukmin yang berbaur dengan manusia dan dia mendakwahkan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menjaharkan dakwah tauhid yang dia anut, dia menampakkan Millah Ibrahim. Dan tentunya ketika orang menampakkan Millah Ibrahim akan mendapatkan penindasan daripada manusia.
Sebagaimana kita tahu bahwa sejarah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau menampakkan Millah Ibrahim karena diperintahkan Allah, maka yang terjadi adalah beliau dilempari, beliau dicekik, beliau juga dituduh dengan tuduhan-tuduhan yang sangat keji. Para shahabat pengikutnya seperti Bilal di siksa, Sumayyah dibunuh, Yassir dibunuh, Amar disiksa hingga patah tulang rusuknya, Khabab disiksa, dan shahabat yang lain -karena mereka tidak tahan dengan berbagai penindasan yang dilakukan orang-orang kafir Quraisy-, maka mereka diizinkan untuk hijrah ke Habasyah (Etiophia). Ini semua terjadi karena mereka menampakkan Millah Ibrahim.
Jadi di sini maksudnya adalah, bahwa ketika seseorang tampil di hadapan manusia dan dia ingin mendapatkan predikat orang mu’min yang mendakwahkan dienullah yang diberikan keutamaan seperti dalam hadits di atas, maka dia harus tampil dengan menampakkan Diennya, mengikuti uswah (teladan) para rasul sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan :
“Sesungguhnya telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia saat mereka berkata di hadapan kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan nampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja”. (Al Mumtahanah : 4)
Jadi, jika pertanyaan di atas ditanyakan kepada kita, maka tinggalkanlah Talbis, dan ikutilah Millah Ibrahim. Allahu Akbar!
Wallahu’alam bis showab!
M Fachry
Label:
Tausiyah
20.34
Pihak Keluarga Benarkan Pernyataan Ustadz Abu Bakar Baasyir Soal Bashar Assad
Written By Anonim on Selasa, 10 September 2013 | 20.34
![]() |
| Surat Ustadz Abu Bakar Baasyir terkait larangan shalat di belakang tokoh yang ragu dan tak setuju perihal kekafiran Bashar Assad. |
Solo – Pernyataan tertulis Ustadz Abu Bakar Baasyir yang berisi larangan untuk bermakmum di belakang para tokoh dan asatidz yang meragukan kekafiran rezim Bashar Assad dibenarkan oleh pihak keluarga Ustadz Abu Bakar Baasyir.
Menurut putra bungsu Ustadz Abu Bakar Baasyir, Abdur Rohim Baasyir melalui sambungan telepon kepada Kiblatnet, Ahad (08/09) mengatakan bahwa surat itu memang berasal dari ayahanda Abu Bakar Baasyir, yang ditulis pada akhir bulan Ramadhan ini.
“Betul, itu dari beliau (Ustadz Abu Bakar Baasyir, red),” ujar Abdur Rohim.
Ustadz Abdur Rohim juga menyebutkan bahwa saat ini manuskrip tulisan tersebut disimpan dengan baik oleh bagian dokumentasi pihak keluarga yang bertugas menyimpan semua catatan dan rekaman pribadi Ustadz Abu Bakar Baasyir.
Sebelumnya, pernyataan Ustadz Abu ini memang telah tersiar di media-media Islam tak lama setelah tulisan itu dikeluarkan. Namun, ada sebagian kalangan yang menolak pernyataan itu bahkan menuduh media-media Islam telah memelintir perkataan Ustadz Abu Bakar Baasyir.
Saat dikonfirmasi lebih lanjut, putra bungsu Baasyir yang akrab disapa Ustadz Iim ini menampik bahwa media Islam melakukan pemelintiran berita terhadap pernyataan Ustadz Abu Bakar Baasyir.
“Saya mendengar ada informasi yang mengatakan bahwa media Islam memelintir pernyataan Ustadz Abu, tapi setahu saya pernyataan [kekafiran Assad, red] itu memang ada,” tukas pengajar di pondok pesantren Ngruki ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, Ustadz Abu Bakar Baasyir secara tegas mengatakan bahwa Bashar Assad adalah kafir harbi dan siapapun yang ragu atau tidak setuju terhadap jihad melawan pemerintah Suriah maka dilarang untuk bermakmum di belakangnya.
Reporter: Fajar Shadiq
Editor: Agus Abdullah
Label:
Tausiyah











